Pindah, Pindah, Pindah

Untuk memusatkan konsentrasi, maka isi blog ini dipindah ke rumah baru di http://saniroy.archiplan.ugm.ac.id Konsekuensinya, tambahan tulisan, misalnya ada nanti, hanya akan ada di sana, tidak di sini lagi. Balik ke habitat, ternyata bagi saya tak makin memudahkan untuk menuangkan pikiran atau pengalaman melalui tulisan. Banyak alasannya. Meski begitu, untuk memusatkan niat, kekuatan, dan konsentrasi, kalau pun ada tulisan lain, maka akan dinaikmuatkan di situs pribadi itu. Rumah baru di dunia maya rasanya juga melegakan, meski di  dunia nyata kondisi serupa tak kunjung terlaksana :-)). Semoga diberi kekuatan menuju ke sana. Oya, alamat ini tak akan dihapus. Biarlah waktu atau rombongan penguasa “wordpress” yang mencabutnya. Asal masih memberi manfaat, akan dibiarkan saja. Suka duka bersama di situs ini tentu saja ada, malahan sangat banyak. Dan mudah-mudahan masih bisa diteruskan di tempat yang baru. Oke begitu saja, maaf dan terima kasih.

Nawaitu Ngeblog Lagi

Seiring dengan mundurnya Pak Fukuda, maka perlu adanya niatan muncul lagi di ranah blog (tepatnya, hanya hubungan momentum saja). Apalagi, sudah cukup rasanya enam bulan untuk menyembunyikan diri dari gegap gempita di ranah maya. Penyesuaian kembali ke Ibu pertiwi sebenarnya bukan lah alasan serius lagi untuk memulai menuangkan beberapa tulisan di ranah publik -yang terkelola mandiri- ini, tepatnya adalah waktu yang begitu sempit serta beberapa persoalan teknis sambungan internet yang kadang-kadang tak bersahabat. Namun, jika melihat antusiasme teman2 lain di tengah2 kondisi yang sama, maka bukan alasan sebenarnya untuk terlalu lama mengerem dan tak menyalurkan apa pun yang masih terasa relevan untuk dituangkan di sini, untuk dimulai lagi. Jadi, ya, nawaitu ingsun ngeblog lagi…

Dilema Anak dan Sepeda

Kecuali bakal bertambahnya biaya hidup dengan naiknya harga makanan, bahan bakar, per April taun ini berdasar beberapa kabar dari media akhir taun lalu, maka yang sangat patut disyukuri bertepatan dengan ditinggalkannya Jepang adalah beberapa regulasi kemasyarakatan yang makin ketat. Regulasi baik untuk orang asing maupun masyarakat Jepang secara umum. Yang paling gres adalah akan ditinjaunya “izin” memboncengkan 2 anak dalam sebuah sepeda yang umum terlihat di Jepang (eh, bahkan 3 orang, lha yang satu kadang digendong di belakang). San nin nori dalam bahasa Jepangnya (3 orang naik secara bersamaan). Meski begitu, tetap saja Jepang masih bisa menjadi pilihan bagi orang2 yang mampu menyesuaikan diri dan bersungguh-sungguh, baik untuk bekerja maupun belajar. Ini kondisi yang masih benar2 banyak buktinya, meskipun misalnya beasiswa Monbusho yang dulu terkenal paling gagah dan menjadi patokan bagi beasiswa2 lain misalnya, saat ini fasilitas yang diberikannya pun makin “kitsui” (menyesakkan) misalnya :-(.

Kembali ke masalah san nin nori, berita2 kemarin dan hari sebelumnya, yang dimulai dengan pengumuman NPA (National Police Agency) secara resmi kemarin sore tentang bakal ditinjaunya kebebasan naik sepeda di Jepang. Kebebasan di sini diartikan sebagai penegakkan kembali aturan bersepeda sesuai aturan. Tindakan ini diambil akibat banyak dilanggarnya aturan bersepeda yang baik dan benar di Jepang. Selain memboncengkan 2 anak balita depan dan belakang, maka yang bakal ditertibkan adala bersepeda sambil berimil-ria, bersepeda sambil mendengarkan i-pod, walkman atau sejenisnya, bersepeda sambil membawa payung, dan lainnya. Kalo pun kurang, tentu polisi bisa menambahnya dengan pelarangan bersepeda sambil makan, sambil merokok, sambil mengobrol, sambil melamun, dan lain2, he..he.. Kata pihak Kepolisian Jepang, alasannya adalah demi keamanan si pengendara sendiri dan kenyamanan pengguna jalan atau masyarakat lain di sekitarnya. Meskipun data menunjukkan kecelakaan bersepeda sangat rendah, tapi kategori ketaknyamanan dari pihak2 lain cukup banyak.

Khusus untuk peninjauan kembali izin san nin nori, tentu saja sedikit banyak menyedot perhatian masyarakat. Bagaimana tidak, bagi para ibu2 Jepang yang terkenal perkasa (dan sebagian bapak yang melakukannya), memboncengkan 2 anak kecil dengan sepeda adalah keseharian yang cukup meringankan beban mobilitas mereka. Dengan anjuran beranak banyak misalnya (untuk mensiasati shoushika mondai, makin rendahnya tingkat kelahiran di Jepang), maka niatan peninjauan kembali ini diniali cukup meresahkan. Di Tokyo, berita ini cukup mendapat penolakan, terutama dari para ibu yang berkategori “kosodate okaasan” (para ibu yang punya tanggung jawab keseharian dalam pemerliharaan anak, utamanya antar-jemput anak dengan sepeda). Mulai 3 tahun lalu, kalo tak salah, anjuran untuk melengkapi anak2 dengan helm juga telah dilakukan. Namun tampaknya, keamanan para ibu dan anak2 mereka pun masih disangsikan. Pengalaman pribadi bertahun-tahun melakukan “san nin nori” ini pun membenarkan timbulnya ketakseimbangan bila memboncengkan 2 anak sekaligus.

Pelarangan memboncengkan 2 anak, tentu saja perlu dipikirkan secara matang penerapannya. Dengan kondisi masyarakat Jepang yang di satu sisi dituntut untuk memprioritaskan kesejahteraan anak (termasuk melipatgandakannya :-)), terbatasnya fasilitas hoikuen/youchien (penitipan anak/taman kanak2) yang terjangkau dari sisi aksesibilitas baik dari rumah maupun dari tempat bekerja para ortu, bisa jadi “rerasan” pelarangan per April 2008 ini akan menjadi kontra produktif. Bahkan ditakutkan larinya akan ke mobil seperti laporan Yahoo atas survei di situs BabyCome, sehingga menjadi bumerang bagi program aksesibilitas ramah lingkungan (bicycling, walking). Meskipun begitu, berdasar poling juga, mayoritas jawaban masih rasional bahwa memang tindakan itu dilarang dan berbahaya, sehingga menjawab”shikata ga nai” (apa boleh buat), 57%. Yang menjawab “kinshi subeki dewanai” (seharusnya tidak dilarang) menyusul di urutan kedua, sebesar 34%. Lainnya mengisi lain2. Bisa jadi yang menjawab seharusnya tidak dilarang itu adalah orang yang benar2 merasakan masalah yang bakal dihadapi bila pelrangan itu benar2 dilakukan.

Pihak berwenang dan industri pun sebenarnya telah memikirkan sebuah inovasi sepeda yang aman dan nyaman bagi ortu dengan 2 anak, misalnya melalui usaha Land Walker Jepang yang membuat dobel roda belakang maupun depan (menjadi 3 buah, sanrinsha) untuk menunjang kestabilan sepeda misalnya. Juga studi banding ke negara2 lain, terutama di Skandinavia (khususnyaDenmark) yang telah cukup familier dengan sepeda mirip becak (misalnya Kangaroo Denmark ini). Namun begitu, jika disain sepeda roda tiga seperti ini dieksekusi, maka lahan parkir sepeda pun tentu ikut berubah. Kajian terhadap kebijakan ini tampaknya menarik untuk terus diikuti.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.