Dilema Anak dan Sepeda

Kecuali bakal bertambahnya biaya hidup dengan naiknya harga makanan, bahan bakar, per April taun ini berdasar beberapa kabar dari media akhir taun lalu, maka yang sangat patut disyukuri bertepatan dengan ditinggalkannya Jepang adalah beberapa regulasi kemasyarakatan yang makin ketat. Regulasi baik untuk orang asing maupun masyarakat Jepang secara umum. Yang paling gres adalah akan ditinjaunya “izin” memboncengkan 2 anak dalam sebuah sepeda yang umum terlihat di Jepang (eh, bahkan 3 orang, lha yang satu kadang digendong di belakang). San nin nori dalam bahasa Jepangnya (3 orang naik secara bersamaan). Meski begitu, tetap saja Jepang masih bisa menjadi pilihan bagi orang2 yang mampu menyesuaikan diri dan bersungguh-sungguh, baik untuk bekerja maupun belajar. Ini kondisi yang masih benar2 banyak buktinya, meskipun misalnya beasiswa Monbusho yang dulu terkenal paling gagah dan menjadi patokan bagi beasiswa2 lain misalnya, saat ini fasilitas yang diberikannya pun makin “kitsui” (menyesakkan) misalnya :-(.

Kembali ke masalah san nin nori, berita2 kemarin dan hari sebelumnya, yang dimulai dengan pengumuman NPA (National Police Agency) secara resmi kemarin sore tentang bakal ditinjaunya kebebasan naik sepeda di Jepang. Kebebasan di sini diartikan sebagai penegakkan kembali aturan bersepeda sesuai aturan. Tindakan ini diambil akibat banyak dilanggarnya aturan bersepeda yang baik dan benar di Jepang. Selain memboncengkan 2 anak balita depan dan belakang, maka yang bakal ditertibkan adala bersepeda sambil berimil-ria, bersepeda sambil mendengarkan i-pod, walkman atau sejenisnya, bersepeda sambil membawa payung, dan lainnya. Kalo pun kurang, tentu polisi bisa menambahnya dengan pelarangan bersepeda sambil makan, sambil merokok, sambil mengobrol, sambil melamun, dan lain2, he..he.. Kata pihak Kepolisian Jepang, alasannya adalah demi keamanan si pengendara sendiri dan kenyamanan pengguna jalan atau masyarakat lain di sekitarnya. Meskipun data menunjukkan kecelakaan bersepeda sangat rendah, tapi kategori ketaknyamanan dari pihak2 lain cukup banyak.

Khusus untuk peninjauan kembali izin san nin nori, tentu saja sedikit banyak menyedot perhatian masyarakat. Bagaimana tidak, bagi para ibu2 Jepang yang terkenal perkasa (dan sebagian bapak yang melakukannya), memboncengkan 2 anak kecil dengan sepeda adalah keseharian yang cukup meringankan beban mobilitas mereka. Dengan anjuran beranak banyak misalnya (untuk mensiasati shoushika mondai, makin rendahnya tingkat kelahiran di Jepang), maka niatan peninjauan kembali ini diniali cukup meresahkan. Di Tokyo, berita ini cukup mendapat penolakan, terutama dari para ibu yang berkategori “kosodate okaasan” (para ibu yang punya tanggung jawab keseharian dalam pemerliharaan anak, utamanya antar-jemput anak dengan sepeda). Mulai 3 tahun lalu, kalo tak salah, anjuran untuk melengkapi anak2 dengan helm juga telah dilakukan. Namun tampaknya, keamanan para ibu dan anak2 mereka pun masih disangsikan. Pengalaman pribadi bertahun-tahun melakukan “san nin nori” ini pun membenarkan timbulnya ketakseimbangan bila memboncengkan 2 anak sekaligus.

Pelarangan memboncengkan 2 anak, tentu saja perlu dipikirkan secara matang penerapannya. Dengan kondisi masyarakat Jepang yang di satu sisi dituntut untuk memprioritaskan kesejahteraan anak (termasuk melipatgandakannya :-)), terbatasnya fasilitas hoikuen/youchien (penitipan anak/taman kanak2) yang terjangkau dari sisi aksesibilitas baik dari rumah maupun dari tempat bekerja para ortu, bisa jadi “rerasan” pelarangan per April 2008 ini akan menjadi kontra produktif. Bahkan ditakutkan larinya akan ke mobil seperti laporan Yahoo atas survei di situs BabyCome, sehingga menjadi bumerang bagi program aksesibilitas ramah lingkungan (bicycling, walking). Meskipun begitu, berdasar poling juga, mayoritas jawaban masih rasional bahwa memang tindakan itu dilarang dan berbahaya, sehingga menjawab”shikata ga nai” (apa boleh buat), 57%. Yang menjawab “kinshi subeki dewanai” (seharusnya tidak dilarang) menyusul di urutan kedua, sebesar 34%. Lainnya mengisi lain2. Bisa jadi yang menjawab seharusnya tidak dilarang itu adalah orang yang benar2 merasakan masalah yang bakal dihadapi bila pelrangan itu benar2 dilakukan.

Pihak berwenang dan industri pun sebenarnya telah memikirkan sebuah inovasi sepeda yang aman dan nyaman bagi ortu dengan 2 anak, misalnya melalui usaha Land Walker Jepang yang membuat dobel roda belakang maupun depan (menjadi 3 buah, sanrinsha) untuk menunjang kestabilan sepeda misalnya. Juga studi banding ke negara2 lain, terutama di Skandinavia (khususnyaDenmark) yang telah cukup familier dengan sepeda mirip becak (misalnya Kangaroo Denmark ini). Namun begitu, jika disain sepeda roda tiga seperti ini dieksekusi, maka lahan parkir sepeda pun tentu ikut berubah. Kajian terhadap kebijakan ini tampaknya menarik untuk terus diikuti.

10 Tanggapan ke “Dilema Anak dan Sepeda”

  1. Dhany Berkata:

    emang di Jepang masih ada yang naek sepedah?

    Jawab:
    Jelas masih ada dong Mas Dhany :-). Coba search saja di google, “Japan, bicycle”. Pasti ketemu banyak. Maaf dan trima kasih.

  2. nyoman.oketo Berkata:

    Saya juga kadang ngeri melihat seorang ibu yang lagi bersepeda dengan membonceng anak di depan dan di belakang yang kadang ditambah dengan barang belanjaan lagi. Terima kasih, tulisannya selalu hangat dan up to date. Sedikit nanya Pak Sani, jalur sepeda yang benar itu di trotoar atau di jalan utama? Selama ini yang saya lakukan tergantung situasi dan kondisi. Kebanyakan yang saya lihat pakai jalurnya pejalan kaki yaitu trotoar, sedangkan kalau sepeda sport lebih sering pakai jalur mobil. Salam.

    Jawab:
    Mas Nyoman, trima kasih komentarnya. Iya, saya juga sering waswas jika bertemu dengan para wanita perkasa Jepang itu. Tapi bagi mereka mungkin “shouganai” (apa boleh buat) ya Mas. Tapi saya yakin, apa pun peraturan yang nantinya diterapkan, meski ada “riak2″ dalam eksekusinya, tapi akhirnya akan tersosialisasikan dengan baik di Jepang. Oya untuk jalur sepeda apakah di trotoar atau di jalan bareng2 kendaraan lain, saya pernah menulisnya di sini (juga saya link pada coretan di atas juga): http://saniroy.wordpress.com/2007/03/15/kring-sepeda-di-pedestrian/ . Maaf dan terima kasih, MSR

  3. nyoman.oketo Berkata:

    Selamat Pagi !

    Terima kasih Pak Sani atas infonya.
    Awalnya saya sebernarnya mau minta sesuatu pada Bapak (minta terus, tanpa pernah memberi) untuk mencantumkan juga link dari tulisan sejenis untuk tulisan Bapak selanjutnya, tapi terpaksa saya batalkan karena ternyata di setiap bawah tulisan Bapak sudah ada keterangan “Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri”. Bodoh sekali saya karena tidak membacanya, maunya enak sendiri dan juga tidak mengerti arti kata “lacak tautan”…

    Salam, semoga sehat selalu.

    Jawab:
    Mas Nyoman. “nareru jikan” (waktu untuk beradaptasi) kan memang perlu, terutama bagi interaksi kita dengan teknologi macam internet begini. Anda membuat situs yang lebih hebat dan kreatif (tidak “given” seperti blog begini) dan itu artinya “subarashii” :-). Gambarimashou Mas.

  4. wetty djundjunan tokuhisa Berkata:

    problem ini untuk ibu2 sepertinya jadi kaya dilema sih mas, maju kena mundur kena, ini menurut mereka sewaktu kami ngobrol2 di halaman pada waktu anak2 main, kebetulan kami disini tinggal di shataku dan seluruh residence adalah middle age, antara 30 sampai 40an yg rata2 anak2nya paling besarpun hanya baru kelas 4 SD dan memiliki adik2 yg balita, termasuk anak saya..

    saya dapat membayangkan bagaimana rasa galau dan bingungnya ibu2 tsb bila aturan mulai disahkan pemerintah, namun sebenarnya dalam hati kecil merekapun mengakui bahwa membonceng anak depan belakang itu adalah sangat mengundang cukup bahaya, tapi yaahh begitu banyak pekerjaan yg harus mereka lakukan dalam sehari (malah kadang2 saya berpikir adduhh rasanya 24jam itu ngga cukup deh buat menuntaskan seluruh pekerjaan rumah yg allhamdulillah bejibun bun bun bun) jadi akhirnya mereka berkeyakinan,biarlah bonceng 2 asal ngga jauh2, tapi ya memang tetep aja bahaya, mereka menyadari itu ko, hanya karena keterpaksaan (shikata ga nai itu tadi mas) agar supaya seluruh pekerjaan rumah dapat terselesaikan dengan baik, ya mereka lakukan juga..

    karena aduh kebayang deh seandainya harus jalan kaki, misalnya antar jemput anak sekolah, sementara berjalan dengan anak balita ya equal dengan move slow, padahal journey dilakukan 2x,mengantar dan menjemput, sementara di kepala kita tuh kebayang pekerjaan2 lain di rumah yg masih menumpuk, toloooong…

    anak balita saya hanya satu mas, jadi membonceng anak hanya di belakang, itu saja kadang2 sudah berat bila ditambah dengan belanjaan yg saya taruh di keranjang depan, begimana yg 2, berattt berattt..

    ma’af dan terima kasih mas sunny…

    kapan jadinya balik indo mas..

  5. nyoman.oketo Berkata:

    Bapak Sani yang baik,
    “Nareru jikan”, kata yang akan selalu saya ingat. Semakin sering saya “main” ke sini, semakin banyak yang saya tidak tahu. Jalur sepeda contohnya, saya baru tahu setelah membaca tulisan Bapak. Terima kasih.

    Note : Tentang web yang saya buat, tampaknya semua orang juga bisa, paling cuma perlu meluangkan waktu sehari untuk belajar. Sedangkan membuat artikel yang bagus dan menarik, seperti artikelnya Bapak, saya yakin tidak semua orang bisa. Awalnya saya berkunjug ke blog inilah saya tertarik untuk ikut ikutan membuat tulisan. Hasilnya ? Bapak tahu sendirilah, tidak ubahnya seperti karangan anak kecil saja. Sekalian tanggung, saya lengkapi kemudian dengan ilustrasi mangga anak anak, shincan, yang saya dapat dari men-scan-nya dari buku. Tidak kreatif ! Maaf Pak, karena isinya sudah keluar topik, nanti paragraf yang ini tolong di hapus saja, Tx

  6. murniramli Berkata:

    weleh….mas Sani, iki wis tanggal 29 Maret lo….tulisan ne ga nambah :D

  7. b oe d Berkata:

    wah, asyik juga kayaknya sepedaan di Jepang ya Pak Sani.
    Di Singapura sini mau naik sepeda ngeri pak, bicycle path gak ada, mau lewat jalan takut disamber mobil mau lewat pedestrian takut nyamber orang. Padahal di beberapa tempat udah ada fasilitas ‘bike & ride’.

  8. Ersis Warmansyah Abbas Berkata:

    Inspirasi menulis saya daparkan dari belajar sepeda, … kini kog merasakan lancar menulis bak mengayuh sepeda he he

  9. Yan9n Berkata:

    iya saya juga ‘takjub’ dengan para okaasan di sini, bisa sampe boncengin anaknya… bahkan pernah di ijiri saya lihat ada bapak dan ibu kompak nganterin anak-nya sekolah, masing2 boncengin 2 anak, dan si ibu sambil nggendong bayinya… sugoi…

    saya juga biasanya klo naik sepeda di trotoar, cuma suka lupa pas di persimpangan jalan ndak liat lampu merah… hehe

  10. dickelubis Berkata:

    Pak Sani, blognya bagus banget!… Saya link ke blog saya yah…
    Salam kenal,
    dicke

    Jawab:
    Salam kenal juga Mas Dicke. Silakan dilink, tapi untuk sementara ini masih “istirahat”, reses panjang, he..he..Jangan ditiru.

Tinggalkan Balasan