Mori no Miyako no Kizu

Di bulan di mana suhu terendah sering menghampiri, tampaknya tak mempengaruhi beberapa pekerjaan konstruksi atau sejenisnya. Malah, bisa jadi agar tidak terlalu banyak banyak menarik perhatian atau memang sudah sesuai jadulnya? Yang jelas, sejak akhir bulan Januari lalu sampai pertengahan Maret nanti pemindahan beberapa batang keyaki (pohon yang sama bisadinikmati pula di Omotesando, Tokyo) di seputaran Aobodori (Jalan Aoba) di pusat Kota Sendai tengah dilakukan. Ada sekitar 42 pohon keyaki, karena alasan pembangunan subway barat-timur (touzai sen) itu, harus ditiadakan. Sayang sekali rencana master plan-nya tak pernah lihat sampai sekarang. Di website Kota Sendai hanya terlihat strategi pemindahannya saja. Yang jelas, saat ini beberapa pohon tampak sudah terpotong, tapi untuk keyaki yang berada di jalur tengah tampak lebih “njlimet” peniadaannya. Sekilas “namiki” atau deretan pohon juga mulai menjadi menyuarakan penderitaannya.

Rencananya, dari sekitar 44 keyaki yang harus di”tata ulang” di sepanjang Jalan Aoba ini, beberapa akan dipindahkan ke lain tempat. Oleh sebab itu, median jalan yang ditutup cukup lebar juga untuk mengeduk sampai akar2 keyaki ini. Ada 2 stasiun yang bakal berada di Jalan Aoba ini, pertama Stasiun Ichibanchou dan kedua tepat berada di ujung Jalan Aoba ke arah Kawauchi Kampus, Tohokudai, Stasiun Nishi Kouen. Sebenarnya awalnya ada 50 keyaki yang perlu disesuaikan, tapi akhirnya bisa diminimalisir hanya menjadi 44 batang pohon saja yang dipindah. Meskipun begitu, setiap lewat di jalan ini saat ini, tampak wajah jalannya pun menjadi berubah. Hilangnya 44 pohon di Jalan Aoba patut dipertanyakan mengingat pohon2 ini lah (dan juga pohon2 di Jalan Jozenji) yang menjadikan Sendai dijuluki kota yang hijau, mori no miyako. Pemindahannya adalah luka bagi Sendai, karena selain eksistensi pohon2 ini, mereka pun turut menjadi saksi pembangunan Sendai itu sendiri sejak pohon2 ini ditanam di sana pada tahun 1950 setelah pusat kota Sendai hancur lebur pada saat Perang Dunia 2. Luka ini pula yang ingin dituangkan oleh para seniman di sini.

Membaca beritanya di koran lokal, keyaki satu batang memerlukan dana sekitar 3 juta yen. Idealnya dari 44 batang itu, pemerintah Kota Sendai membiayai seluruh pemindahannya, namun apa daya Kota Sendai hanya mampu memindah 7 batang saja. Angket yang dibuat untuk menjaring dukungan masyarakat agar kota mengeluarkan biaya tambahan untuk pemindahannya pun tak menghasilkan keputusan yang memuaskan. Ketujuh pohon ini akan dipindah ke Nishi Kouen. Sedang 10 lainnya pembiayaannya ditopang oleh Universitas Tohoku, Perkumpulan Pedagang di seputaran Jalan Aoba, maupun beberapa NGO yang berminat. Kesepuluh pohon ini, 9 di antaranya akan dipindah ke Kampus Baru Tohokudai di Aobayama yang mulai tahun ini juga mulai pengerjaaan konstruksinya. dan 1 pohon akan dipindah ke Kaigan Kouen. Sisanya, 27 pohon akan dideforestasikan alias dibuat kayu bakar :-(. Pemindahan pohon2 ini dilansir oleh Kahoku Shimpou merupakan kegiatan yang ke-4 demi pembangunan :-(. Dari 36 pohon yang telah dipindah sebelumnya, 9 di antaranya ngambeg dan mati.

3 Tanggapan ke “Mori no Miyako no Kizu”

  1. Yonan Berkata:

    Hoo… itu jalan2 pada dipalang2 kirain karena ada perbaikan jalan, ternyata pohonnya mau dipindahkan ya? Stasiunnya bawah tanah kan ya? Kalau stasiunnya selesai, bisa dikembalikan lagi keyaki-nya. Tapi kok aneh ya? Keyaki-nya kan ditengah jalan, sedangkan biasanya pintu masuk ke stasiunnya ada di trotoar… kenapa harus memindahkan pohon2 di tengah jalan?

    Jawab:
    Apa kabar Dik Yonan? Iya, say atadinya mikir begitu. Tapi kata orang, akar keyaki itu sebanding dengan tingginya, kalo tingginya 5 meter, bisa jadi akarnya pun bisa2 menembus tanah sedalam 5 meter pula. Jadi, tentu saja akan mengganggu kegiatan membuat ruang bawah tanah (tiap stasiun biasanya akan ada 4 pintu masuk diagonal). Katanya, kalo proyeknya sudah jadi akan ditanam lagi keyaki penggantinya. Yang jelas, kegiatan penghimpunan dana untuk memindahkan keyaki ini juga melibatkan masyarakat dari daerah lain, misalnya masyarakat Hokkaido yang memang suka akan alam. Dari Saitama bagaimana? :-).

  2. dodski Berkata:

    tanduri wit2 sengon ae, mas! hahaha

    Jawab:
    Wehh, kok usul kepadaku. Aku dudu pemerintahe Sendai je :-).

  3. rere Berkata:

    Berat nggak ya mindahin pohon begitu? ck..ck..ck..

    Saya jadi ingat, ada seorang guru saya yg tiba-tiba mengeluh sedih karena pohon didepan proyek konstruksi Law Building “terganggu” dengan proyek tersebut. Kami satu kelas cuma melongo tidak paham mendengarnya. “How could you know?”, we asked. He answered, “Look! it’s leaves turning yellow in summer time like this!” Kami satu kelas cuma ber-koor “Oooo…”, namun masih melongo tidak paham mendengarnya. Tetapi ya, sekarang saya sudah lebih merasakan penderitaan pohon-pohon itu.

    Jawab:
    Betul, Sensei saya juga begitu. Malah hanya satu pohon di tengah halaman sekolah pun Beliau amati terus. Bagi Beliau pohon2 itu menjadi tonggak sekaligus pencatat peristiwa lingkungan sekitarnya. Puitis sekali Beliau memperlakukan makhluk hidup lain.

Tinggalkan Balasan