Belajar dari “Namdaemun”

Terbakarnya aset warisan budaya di tengah Kota Seoul, Korea Selatan, Namdaemun atau “Pintu Gerbang Selatan” seminggu lalu cukup menyentak. Pelakunya langsung teridentifikasi dan terbukti beberapa tahun sebelumnya pun pernah mencoba melakukannya di obyek warisan budaya lain (Istana Changgyeong, Seoul). Teman Korea di Lab. ketika disinggung masalah ini, langsung berubah rona wajahnya. Zannen desu (sangat disayangkan), hanya begitu jawabnya. Memang, duka terasa melanda sebagian besar warga Korsel ketika aset kebanggaannya itu musnah dilalap api. Selain itu, sebagai bangunan kayu tertua di Seoul, Namdaemun memang paling banyak menyedot turis, meski hanya sekedar berfoto di sekelilingnya. Berita kebakarannya di Jepang pun banyak mendapatkan simpati, sekaligus memori yang mencuat saat Kinkakujin (paviliun emas di Kyoto) juga terbakar oleh orang (biksu) yang tak bertanggung jawab pada tahun 50-an.

Menindaklanjuti peristiwa ini, editorial Koran Asahi cukup bijak dalam mengakaitkan peran yang bisa dilakukan Jepang untuk membantu rekonstruksi yang segera akan dilakukan oleh Pemerintah Korsel (dijadualkan selama 3 tahun dengan anggaran 21 juta dolar). Pertama, Namdaemun merupakan salah satu aset budaya di Korea yang mampu merekam pendudukan Jepang sejak zaman Edo saat agresi ke Korea saat pemerintahan Toyotomi Hidetoshi, masa pendudukan tahun 1910-an, dan pahit getir hubunagn kedua negara setelahnya. “During the attack, the vanguard division under daimyo Kato Kiyomasa entered the city through Namdaemun, or the South Gate, and the division under daimyo Konishi Yukinaga entered it through Dongdaemun, the East Gate. After it annexed Korea in 1910, Japan built a large building for the Government-General of Korea, the colonial government, as if to overshadow the palace. The colonial administration ruled Korea with an iron hand. But Namdaemun survived the Japanese colonial rule as well.”

Yang kedua, karena kaitan hutang budi atau bagaimana, selain memang kemampuan maupun pengalaman Jepang dalam mengurus bangunan2 bersejarah, ada baiknya Jepang secara resmi menawarkan bantuan kepada Korsel. Bagaimana pun tata laksana prosedur kegiatan bagi aset2 budaya memang diperlukan kehati-hatian (berbeda), dan ini pula yang disinyalir ikut memperparah kerusakan yang terjadi saat kebakaran Namdaemun. Selain itu, penumbuhan persepsi masyarakat terhadap aset2 budaya memang memerluakn usaha yang tak ringan pula. Dan untuk urusan beginian, Jepang yang mengaku sebagai “cultural nation” memang telah sangat maju tata laksana perlindungan terhadap aset2 budayanya.

“In Japan, the burning of precious wall paintings at the famous Horyuji temple in the year before the destruction of Kinkakuji led to the enactment of the law for the protection of cultural properties. As a result, various efforts to protect cultural assets have been made by both the central and local governments. The Kyoto municipal government’s fire department, for instance, has a section in charge of protecting cultural properties. A special system to protect cultural properties based on cooperation between citizens, temples and shrines has been established in the ancient capital. In Nara, prefectural police officers responsible for protecting cultural assets are working with fire stations to keep watch on invaluable properties to defend them from crimes and accidents. South Korea could learn from these efforts”.

Dan media hari ini juga menyebutkan hasil pertemuan yang digelar oleh Komite Pusat Pencegahan Bencana (Chuuou Bousai Kaigi) yang diketuai langsung oleh Perdana Menteri, tentang perlunya penguatan kebijakan dan prosedur (tambahan) perlindungan terhadap bencana alam serta perlakuan keadaan darurat pada aset2 budaya maupun kota. Di wilayah Kinki (Osaka, Kobe, Kyoto, Nara) dan Chuubu (Nagoya dan sekitarnya) saja tercatat 580 warisan budaya penting (113 di antaranya adalah national treasures atau kokuhou) yang sangat riskan terhadap bencana jika muncul bencana alam di wilayah tersebut misalnya. Kerja bersama untuk mengatasi kemungkinan2 buruk ini, selain dikoordinir langsung di bawah komando Pak PM, juga melibatkan berbagai instansi terkait, mulai dari biro meterologi, keamanan, sampai biro yang memang punya tanggung jawab langsung dengannya (Biro Kebudayaan, Depdikbudnya Jepang). Lebih jauh, tampaknya pertemuan ini juga dipicu oleh situasi yang tengah terjadi akibat terbakarnya Namdaemun di Korsel itu.

Satu Tanggapan ke “Belajar dari “Namdaemun””

  1. Nyoman A Berkata:

    Negara kita juga memiliki banyak bangunan bersejarah yang tidak kalah menariknya. Cuma satu yang menurut saya sangat disayangkan, yaitu akses ke lokasinya. Mengandalkan kendaraan umum tampaknya susah. Dan tambahan lagi, (yang bagi saya tidak kalah pentingnya) yaitu tidak ada tamannya cuma tumpukan batu saja yang tidak cocok untuk rekreasi keluarga. Salam, semoga sehat selalu.

Tinggalkan Balasan