Globalisasi yang sering divisualisasikan dengan merk-merk global (kebanyakan Amerika) macam burger Mc. Donalds atau kopi Starbucks, tak ketinggalan ikut memicu persaingan produk lokal dan pendatang ini di Jepang. Jika McDonaldsyang disusul Burger King adalah simbol bagi produk pendatang, maka di pihak lokal ada Mos Burger dengan kualitas yang agak eksklusif (mahal, bahan2 terpilih, dst.). Jelas, dari situ beberapa perbedaan tampak dari keduanya, misalnya harga yang lebih mahal di Mos Burger. Begitu pula, jika Starbucks, Tully`s Coffee adalah simbol produk pendatang, maka lokal Jepang juga sudah lama eksis dengan Doutor Coffee yang umum atau Hoshiyama Koohii yang super mahal (satu cangkir bisa 1000 Yen!) misalnya. Tak bisa ditampik, produk global atau lokal punya pendukung atau konsumen fanatik sendiri.
Khusus untuk kopi, budaya meng”kopi” dalam masyarakat Jepang tampaknya juga makin meningkat. Bagi tamu, saat ini tawaran minuman bukan hanya ocha atau teh, tapi juga kopi. Kedai2 kopi atau cafe juga lebih populer, menilap istilah “kissaten” yang sering digunakan untuk melukiskan kedai2 berbau tradisional (minimal dari istilahnya) di buku2 pelajaran bahasa Jepang :-)). Kopi di lab., nyatanya juga lebih sering habis dari pada persediaan teh celup atau ryoukucha yang hijau itu. Sama2 iuran 350 yen per bulan misalnya, dibanding dengan intensitas konsumsi orang Jepang pun tampaknya “tidak cucuk” alias rugi, he… Bayangkan saja, bila mengambil kopi saja, biasanya mereka langsung menggoyangkan wadah kopinya dan menuangkannya langsung ke gelas tanpa takaran. Dan sehari bisa lebih dari 2-3 kali.
Awalnya, kedai2 kopi global itu datang karena gandengan tangan pengusaha Jepang sendiri. Dan pada awal 2000-an menjadi puncak dari kehadiran raksasa2 kopi dari Seattle: (Starbucks, Tuffy`s, dan Seattles`s Best Coffee) dan makin meramaikan gairah mengkopi tadi. Seperti yang dilansir oleh Asosiasi Kopi se-Jepang (Zennippon Koohii Kyoukai), tahun 2004 rata2 orang Jepang minum kopi sebanyak 10.43 gelas/minggu, dengan sebarang terbanyak pada kelompok umur 40-60 tahun. Dan sebenarnya tetap saja, terbanyak mereka minum kopi di rumah, bukan di kedai2 itu. Jepang juga masih tercatat sebagai pengimport kopi terbesar ke-3 terbesar di dunia setelah Amerika dan Jerman (untuk konsumsi per kapitanya menduduki tempat ke-4 setelah Norwegia, Swiss, dan Amerika). Dan yang membanggakan, kopi Indonesia masih termasuk paling banyak dikonsumsi, setelah kopi Brazil :-).
Kedai2 kopi itu kini sudah “ubiquotious” atau bisa ditemukan di tiap sudut kota (minimal kota yang masuk seirei shitei toshi lah :-)). Persaingan untuk merebut konsumen pun terlihat nyata, misalnya di satu kedai mengeluarkan produk unggulan baru maka menu serupa akan juga bisa ditemui tak lama kemudian di kedai lainnya. Beberapa kedai juga membuka anak cabang dengan cita rasa berbeda untuk “memecah” kosumen, misalnya Doutor yang membuka Coffee Excelsior untuk bertarung dengan Starbucks. Anak2 muda tampaknya lebih menyukai para pendatang, selain merasa lebih PD mungkin, dengan biaya agak malah sedikit mereka juga bisa merasakan sentuhan2 bukan Jepang meski menuntut mereka rela tidak merokok. Lain halnya dengan penikmat kopi umur 40-an, mereka lebih relistis dengan uang yang harus dikeluarkan untuk menebus secangkir kopi di kedai milik orang Jepang sendiri dengan kelebihan keleluasaan.
Beberapa angket (misalnya dari Dims-Drive) pun menunjukkan persaingan ini, terutama antara kedai pendatang yang diwakili oleh Starbucks dan kedai tuan rumah yang diwakili oleh Doutor. Tapi biasanya Doutor hanya menang di harganya yang murah (misalnya untuk cangkir kecil Capuccino di Sturbucks yang 350 yen, di Doutor bisa diteguk dengan hanya 210 yen). Mau tak mau, memang imej sebuah merk (branding image) juga berperan besar dalam hal ini. Dalam survei yang ada misalnya juga ketahuan apa yang paling banyak dikonsumsi di di kedai kopi itu. Berturut-turut hasilnya adalah brand coffee, cafe latte, cafe o`lei, american coffee, dan capuccino. Dari hasil survei pula, akan bisa ketemu lebih detil bagaimana sebenarnya budaya mengkopi di Jepang ini.
Berita yang paling gres tentu saja hasil survei “undercover” (ini meniru survei restoran di Tokyo secara diam2 ala Michelin) yang dimuat dalam “The Weekend for Adults” dan diterbitkan oleh Kodansha yang merangking kedai2 kopi di Jepang. Cukup mengejutkan, karena Starbucks tak menduduki singgasana, diganti oleh Tully`s Coffee. Tempat ke-2 sampai ke-11 berturut-turut adalah: Zanetti Expresso, Starbucks, Excelsior, Saint Marc Coffee, Seattle`s Best Coffee, Cafe de Crie, Cafe Du Monde, Doutor Coffee, New Yorkers Cafe, dan terakhir Cafe Veloce. Lucunya, karena diterbitkan resmi dan berada di urutan butut, maka Cafe Veloce menuntut “kerugian” yang dideritanya kepada pihak Kodansha sebesar 11 juta Yen. Weh!.



Februari 24, 2008 pukul 10:11 pm |
ra ngerti, mas! ra tau ngombe kopi. nek dolan starbak aku ngombene green tea frappucino… hahaha! nampol beneran deh :D
Jawab:
Iya, green tea frappuccino juga enak. Aku apa wae lah :-D.
Februari 28, 2008 pukul 3:44 pm |
kopi sebegitu famous-nya ya pak di Jepang sana?
senpai saya sampe pesen ke saya utk bawa omiyage kopi aja pas ntar ketemu sama sensei… kata mereka, kopi dari jawa nikmat rasanya (iyakah? saya sendiri bukan peminat kopi, jadi ya rasanya biasa-biasa aja hehe).
Jawab:
Iya bawain kopi saja. Mungkin kopi Toraja juga sudah jadi barang yang dikenal di Jepang, karena enak dan mahal :-).
Maret 3, 2008 pukul 1:09 pm |
nek aku dadi juragan kopi mengko ta’ gawak’ke kabeh… ning aku dudu juragan kopi, mas! nek ta’ gawak’ke sambel udang ala bu rudi khas suroboyo wae piye? hahaha…
Jawab:
Apa2 arep. Syarate siji, tenan lo ya, hehehe…Oya, selama kerja bebas nginternet to? :-?
Maret 3, 2008 pukul 1:34 pm |
makan gaji buta and being overpaid… yo ngene iki gawean’e blogwalking trusss :P hahaha! ojo kanda’ke bu mentri… mengko World Bank diusir dari Indonesia… gara-gara hire staff yang kerjaannya blogwalking melulu… :P
Jawab:
Biarlah yang berwenang menemukan kata kunci sing ditulis Mas: “World Bank”, “Indonesia”, “hire”, “blogwalking”. Ha..ha..ha..
Maret 19, 2008 pukul 8:17 pm |
wah.. pihak donor dan client ngga sampe segitunya deh :)
mungkin malah pak bos-ku sing penasaran.. iki dodY kok gawean’e gak beres2 yoh! ngapa wae nek pas kerjo :P
hahahaha
Juni 19, 2009 pukul 1:51 am |
asalam sy mo bikin kedai kopi dan teh mhon gamabar desain ya dr jepang