Tak biasanya, Majalah Science edisi 8 Februari ini terbit dengan mengusung tema di luar “hard-science“, yakni tentang kota (Cities in Science). Lain halnya dengan Majalah Nature yang beberapa kali pernah menyorot fenomena lingkungan (termasuk kota di dalamnya). Sebuah keputusan yang telah dipertimbangkan masak2 oleh para redakturnya tentu saja (bisnis? ilmu itu sendiri?). Minimal, sebuah keputusan memuat topik khusus tentang kota di majalah sekelas Science bisa jadi topik ini memang tengah menyedot perhatian dalam kehidupan umat manusia :-). Dan setuju dengan pengantar yang disajikan oleh tim editor dalam menutup pengantar editorial edisi ini, terutama mengkomentari artikel2 yang lebih ditujukan penerapannya dalam jangka panjang “…the time has come for a radical rethink of our concept of cities and their place in the global environment”.
Sebagai catatan saja, tahun 2005 lalu Majalah Nature malah sempat membahas bagaimana nasib Jakarta dalam konteks kesehatan kotanya, dengan judul “Environmental health: Megacity, mega mess…” (Nature 437, 312-314, 15 September 2005), selain hubungan gempa bumi di wilayah2 padat penduduk (kota) misalnya. Saat itu, Jessica Marshall sudah cukup jeli sebagai penutur asing melihat permasalahan ketidaksehatan Kota Jakarta, sama jelinya seperti yang kini tengah beredar di blog maupun media lain, sebuah tulisan Andre Vltchek dengan judul “A Sinking Giant?” (Jakarta Post, 13 Februari 2008) yang memotretnya lebih kompleks lagi. Paling tidak memang permasalahan kota2 dewasa ini tak bisa dipandang sebelah mata dan hanya jadi diskusi para ahli di bidang perencanaan kota misalnya, tapi secara radikal memerlukan kerja bersama seluruh penduduk di dalamnya untuk mengubah “lingkungan”-(kota)nya. Halo Jakarta dan kota2 Indonesia lainnya?
Kembali lagi ke artikel2 bertema kota di Majalah Science tadi, sebagian besar memang ditujukan untuk memotret kembali permasalahan daya dukung lingkungan kota yang tampak tak mampu lagi mengimbangi ledakan penduduk di dalamnya. Lalu beberapa artikel yang mencoba membantu memberi alternatif jalan keluar ditampilkan, termasuk bagaimana China di sela2 pembangunan gila2annya juga “sempat” memikirkan kota2 bertemakan ekologi (eco-cities). Lebih dari itu, rasanya pendekatan terintegrasi multi-disipiliner dalam menangani kota seperti yang dikemukakan Pak Michael Batty, Professor sekaligus Direktur CASA (Centre for Advanced Spatial Analysis, di mana Space Syntax dikembangkan), UCL London, adalah yang paling mendesak terutama untuk menghadapi isu2 keberlanjutan saat ini. Atau mungkin Pak Batty mulai sadar pendekatan fraktal geometrinya memang mentok hanya sebagai alat bantu analisis saja, dan kurang bisa memberi solusi seperti yang dibayangkan? Atau malah sebaliknya, Beliau mencoba menawarkan soft-computing approach-nya itu untuk cakupan yang lebih luas seperti termuat di buku terakhirnya (Cities and Complexity: Understanding Cities Through Cellular Automata, Agent-Based Models, and Fractals, The MIT Press)? Yang jelas, paparan Beliau selalu menarik untuk diikuti.
Pak Batty menulis dalam majalah itu, Network science provides a way of linking size to the network forms that enable cities to function in different ways. How materials are processed, their resulting waste products and pollution, and their multiplier effects on other urban activities can be tracked using the network dynamics that is implicit in this science, whereas the speed at which change can be initiated through such networks provides essential insights into the potential effectiveness or otherwise of different urban policies. The impacts of climate change, the quest for better economic performance, and the seemingly intractable problems of ethnic segregation and deprivation due to failures in job and housing markets can all be informed by a science that links size to scale and shape through information, material, and social networks that constitute the essential functioning of cities.


