Kumi, Kumi, Kamu Itu

Geli saja menyaksikan Koda Kumi nangis dan memperlihatkan kenaturalannya, tidak neko-neko, dengan dandanan seronoknya misalnya. Peristiwanya di Fuji Terebi sore hari tadi (Kamis siang) Koda Kumi diwawancarai oleh penyiar Fuji TV, menyusul guyonnya yang keterlaluan pada akhir bulan lalu di salah satu top acara radio Jepang, All Night Nippon. Di sana seperti banyak dilansir media, Koda Kumi sebenarnya hanya menjawab ingin punya anak sebelum umur 35 tahun. Nah, penjelasan susulannya lah yang membuat banyak pihak merasa dilecehkan. Di situ Koda Kumi dengan suara segarnya berkata kalo umur 35 tahun, (maaf) cairan yang ada pada wanita akan memburuk (sehingga sulit mempunyai anak, begitu maksudnya). Ya jelas saja, banyak yang tersinggung dibuatnya. Dan berita ini cukup lah memberi keseimbangan berita di tengah berita gyouza beracun yang membuat geger Jepang. Kumi, Kumi, Kamu itu…

Peristiwa ini menyusul pelajaran2 bahwa sebagai tokoh publik tak selayaknya untuk asal2an mengumbar kata-kata di depan publik. Bertutur kata, seperti petuah para “winasis”, harus dipikir dulu, tepat tidaknya diucapkan pada kesempatan tertentu. Tapi dibanding kasus Sawajiri Erika tahun lalu saat pemutaran perdana film “Closed Note”, tampaknya Koda Kumi benar2 tak sengaja terpeleset. Dan, wawancara di TV itu membuktikan bagaimana ia benar2 menyesal karena telah melukai banyak orang dan meminta maaf karenanya. Sebenarnya sebelumnya ia pun telah meminta maaf di beberapa kesempatan, baik lewat staf maupun situs pribadinya. Pengalaman memang mahal lah harganya, sampai2 promosi lagu terakhir, konser, maupun beberapa iklannya dipending sampai kira2 tenang (April 2008 nanti?) menyusul peristiwa ini.

Dan menariknya, tangisan penyesalan sekaligus permohonan maafnya itu menurut survei masih dianggap tak cukup menutup kesalahan mengucapkan “35 (sai) gurai mawaru to okaasan no yousui ga kusatte kuru” tadi. Ini mungkin pertanda bahwa posisi kaum wanita, terutama ibu, masih terhormat di Jepang? Atau malah karena Koda Kumi yang melontarkannya sambil guyon (yang tampaknya jadi gayanya pula) itulah yang membuat masyarakat lebih tersinggung, karena siapa tau malah itu sudah mendarah daging dalam pikirannya? Terpelesetnya Koda Kumi ini, meski berpengaruh pada promosi album keenamnya (Kingdom), tapi nyatanya malah bisa sebagai ajang promosi hebat album tersebut. Seperti yang diberitakan Mainichi Shimbun, 11 Februari lalu, album yang dilepas sehari sebelum peristiwa itu, malah bertengger di urutan pertama penjualan sementara mingguan versi Oricon dengan 420 ribu keping lebih. Entaa no nyuusu deshita :-).

2 Tanggapan ke “Kumi, Kumi, Kamu Itu”

  1. Resi Bismo Berkata:

    mas mau tanya nich, keluar dari konteks tulisan diatas! memangnya orang japan freak terhadap ikan yach? sampe2 ikan lumba2 dimakan juga? apa memang sudah tradisi ribuan tahun?

    Jawab:
    Ha..ha..iya ya, sampai dunia internasional jengkel kan, lha wong ikan paus saja diburu hanya untuk dimakan. Untuk ikan lumba2, kata orang Jepang sendiri hanya di daerah tertentu saja, terutama di Prefektur Shizuoka (prefektur antara Tokyo dan Nagoya). Karena tak biasa dimakan di daerah lainnya, maka terlihat kalo mereka ditawari makanan yang tidak biasa dimakan daerah tsb., maka ya agak “mikir” makannya. Begitu pula, ikan paus yang dimakan di daerah utara (termasuk Sendai, dan saya pernah mencicipinya :-)), kadang tak tega untuk dimakan di daerah yang lain. Ya, mungkin ini terkait erat dengan budaya turun temurun ya, termasuk saat Jepang mengurung diri lebih dari 200 tahun dalam Periode Edo.

  2. nyoman.oketo Berkata:

    Judulnya mengugah sekali untuk di klik. Awalnya saya kira tulisan diary biasa, dari salah satu keluarga pak Sani yang namanya Kumi. Koq tidak tumben dan bukan gayanya pak Sani namun ternyata serba serbi per-artis-an.

    Saya juga OOT Pak, belum lama ini saya lihat tayangan nelayan kita dari salah satu desa di nusa tenggara yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi ikan paus. Bahasa Jepang saya tidak bagus, jadi tidak mengerti secara keseluruhan. Kalau tidak salah dari salah satu desa nelayan di Flores (?). Apakah bapak tahu hal itu ? Saya hampir tidak percaya karena tidak pernah di ekspos. Untuk meyakinkan, saya sempat ambil beberapa photonya. Tx.

    Jawab:
    Trima kasih kembali Mas Nyoman. Iya, baru saja teman Jepang di sini juga cerita tentang acara yang sama. Kalo tak salah nama desanya Lamalera di Flores, NTT. Dan menurut beberapa sumber memang terkenal dengan tradisi penangkapan ikan pausnya (hanya dengan peralatan sederhana).

Tinggalkan Balasan