Kota Ishinomaki & Kisah Kini

Ishinomaki, kota di sebelah utara Sendai yang bisa ditempuh dengan kaisoku densha lebih kurang 1.5 jam itu kembali terkunjungi. Ini adalah kunjungan yang kesekian kalinya ke sana. Kunjungan kedua bersama keluarga, setelah 4 tahun lalu (4 nen buri). Kunjungan lainnya dengan teman2 lab saat menginap 2 hari di Ajishima tahun 2001 (menyeberang sekitar 30 menit dari pelabuhan Ishinomaki, disebut oleh orang Jepang sebagai Hawaii-nya Miyagi :-)), survei. atau kunjungan sekolah. Kunjungan kali ini dibanding 4 tahun lalu sungguh berbeda, terutama dari suasana pusat kota yang makin “merana”. Makin banyak usaha kecil-menengah berupa toko2 yang tutup gerainya. Sisa2 kenangan “kejayaan” pusat kota masih bisa ditemui di jalan pedestrian semisal Kotobukicho-doori dengan street furniture-nya. Lengang makin terasa karena tak banyaknya hunian di seputaran pusat kotanya.

Sebuah keprihatinan yang tengah berlangsung di banyak kota2 Jepang memang tengah menjadi mimpi buruk bagi kota terbesar kedua di Prefektur Miyagi itu. Penduduknya turun drastis, meskipun usaha telah ditempuh dengan jalan menggabungkan beberapa kota2 kecil tetangganya. Tahun 1995 penduduknya tercatat 178,923, tahun 2000 berkurang lebih dari 4000 jiwa menjadi 174,778, tahun 2005 berkurang lagi sekitar 10 ribu jiwa menjadi 167,324 (tahun ini pula beberapa kota kecil di sekitarnya digabungkan ke dalam wilayah adminsitrasi Kota Ishinomaki). Dan terakhir, 2 tahun lalu penduduknya tercatat 165,838. Selain kondisi demografi yang berubah, makin melemahnya kegiatan utama sebagai Kota pelabuhan juga berpengaruh besar. Saat ini, pelabuhan tak seramai 20-30 tahun lalu dan hasil tangkapannya pun berkurang. Oleh sebab itu, penduduknya banyak yang “lari” ke luar daerah atau memilih daerah di dekat jalan2 tol seperti “Sanriku Jidousha Douro” atau seputaran Hebita (2 stasiun dari Ishinomaki).

Tampak pula, beban berat sebagai kota yang pada awal mulanya dibangun di atas kegiatan yang bergantung pada alam tak segera bisa diikuti dengan alternatif2 lainnya. Peran pariwisata misalnya, keberadaan Museum Komik (Mangattan-Ishinomori)  atau San Juan Batistuta Museum juga tak banyak menolong. Keduanya terletak berjauhan dan tampaknya tak ada arah untuk menjadikannya sebuah “tourism course” yang saling menunjang. Sejauh ini, keberadaan Museum Komik saja yang menjadi andalan Ishinomaki, termasuk dengan menggambari 4 buah kereta jalur Aobadoori, Sendai-Ishinomaki dengan cerita2 komik, macam Kamen Rider, Cyborg 009, Robocon, dan Goranger yang semuanya adalah karya Alm. Pak Ishinomori Shoutarou. Tapi masih lumayan, Shiraken Ishinomaki masih menjadi pesaing terberat Abekama Sendai untuk oleh2 dari Miyagi dalam kategori kamaboko (sejenis makanan dari hasil olahan laut), selain katanya sushi-nya yang lebih fresh dan lebih murah. Rasanya jika tak segera disuntik dengan berbagai program terpadu, kota ini hanya menunggu kebangkrutan saja. Pengoptimalan peran pembangunan toserba Jusco Aeon di seputaran Stasiun Ishinomaki  setahun terakhir telah terbukti mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan merupakan penggerak kegiatan baru, mestinya bisa disusul dengan rencana2 baru segera. Jadi tak hanya ramai saat jam buka toko saja :-).

Di luar observasi kota Ishinomaki, beberapa info berguna juga didapat setelah mengunjungi Museum Komik untuk kedua kalinya, disusul dengan melihat langsung replika satu banding satu Kapal “Date no Maru” yang lebih dikenal sebagai “San Juan Batistuta”. Kapal ini sekitar 4 abad lalu, dikirim oleh Mbah Date Masamune dengan dipimpin oleh Mbah Hasekura Tsunenaga, yang tercatat dalam sejarah Jepang sebagai wakil diplomatik resmi dengan kunjungan kapalnya ke Eropa maupun Amerika (Mexico), khususnya sowan ke Paus di Roma. Yang mengasyikkan, jika waktu lebih banyak, adalah melihat bagaimana teknologi Jepang 400 tahun lalu dalam dunia perkapalan. Sedang di Museum Komik yang memang didedikasikan untuk Alm. Pak Ishinomori (meninggal 10 tahun lalu), menjadi lebih tahu bahwa Beliau baru saja mendapat ganjaran baru dalam Guinness Book of Record bulan lalu karena rekornya membuat 770 judul komik, dengan 500 volume yang diterbitkan. Dan jika dilihat langsung, ratusan ribu lembaran yang telah Beliau hasilan bisa sampai satu almari penuh.

4 Tanggapan ke “Kota Ishinomaki & Kisah Kini”

  1. Fune no Naka « SUNNY VIEWS Berkata:

    [...] Ini adalah anjungan Replika Kapal “Date no Maru” atau lebih dikenal sebagai “San Juan Batistuta”. Sebuah kapal yang dibuat 4 abad lalu atas kehendak Date Masamune, penguasa Sendai waktu itu. Kapal dikirim dengan misi diplomatik ke Mexico dan beberapa negara Eropa, termasuk menghadap paus di Roma. Ekspedisi yang sebenarnya tak terlalu signifikan hasilnya bagi Sendai maupun Jepang secara keseluruhan ini dipimpin oleh Hasekura Tsunenaga. Replika kapal ini saat ini menjadi satu dari beberapa obyek menonjol yang menemani perjalanan Kota Ishinomaki dalam tahap “shrinking communities” nya. [...]

  2. Resi Bismo Berkata:

    asik kali yach tinggal dijepang, bisa jalan2 ke kota2 lain, belajar kultur dan budayanya. udah bosen nih mas di jerman. hehehehehe.

    Jawab:
    He..he.., rezeki yang ada disyukuri dulu Mas. Saya malah pingin balik ke Eropa lagi, he…he… Tapi menurut saya (tentu saja subyektif!), belajar dari sesama Bangsa Asia yang telah maju terlebih dahulu tentu lebih mudah “adjusment”nya :-).

  3. Farida Berkata:

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Saya buka blognya dari Intranet DJP lho Pak Sani, melalui link- ke link, cari-cari blog yg menarik, ketemu Sani-Japan, wah, ini pasti yang di Sendai. Surprise juga. Salam buat Mbak Arta, Daffa kun dan Zaha chan ya. Sampai ketemu di tanah air, InsyaAllah.

    Jawab:
    Wa`alaikumsalaam WW.,
    Mbak Ida, terima kasih hampirannya. He..he..iya dari luar DPJ ya Mbak (menekankan, biar klir begitu :-)). Apa kabar Mas Pur dan putra-putri? Tentunya sudah sedikit beradaptasi ya Mbak. Iya, Insya Allah nanti sowan deh kalo mampir ke wilayah kekuasaannya Mas Pur-Mbak Ida :-). Sampai jumpa dan saling mendoakan. Mdtk, MSR

  4. dodski Berkata:

    ck ck ck…. ada yg udah bosen di jerman pengen ke jepang? gimana kalo tuker ama saya aja di kuningan? hehehe! udah bosen ngantor di MoF nih :D

    *kabuuuur dari kejaran Bu Mentri* :))

    Jawab:
    Eh, aku tak perlu menjawabnya ding :-P

Tinggalkan Balasan