Jika survei yang diselenggarakan beberapa lembaga independen benar (salah duanya Sankei Shimbun 2 minggu lalu dan Mainichi Shimbun seminggu lalu), maka besok pagi Osaka-Fu akan mempunyai seorang gubernur baru dan masih sangat muda, Pak Hashimoto Tooru (38 tahun). Wajah dan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos khas Naniwakko sudah sangat akrab dengan para pemirsa TV (Ia lahir di Tokyo, tetapi masa kecilnya di Osaka). Pertama kali melihat wajahnya di acara “Gyouretsu ga dekiru houritsu shoudanjo” di Nippon TV. Kala itu bersama Pak Maruyama, Pak Kitamura, dan Bu Sumida atau pengacara lainnya berperan sebagai pemberi keputusan apakah masalah2 yang ditayangkan itu benar atau salah menurut perspektif hukum mereka. Terakhir ia juga menjadi anggota tetap “Waratte Ii Tomo!”. Jika ini benar2 terjadi, maka kemenangannya akan makin mencatat rekor juga sebagai gubernur termuda di Jepang, lebih muda dari Pak Ozaki Masanao yang bulan Nopember tahun lalu tercatat sebagai Gubernur Kochi dalam usia 40 tahun.
Perebutan kekuasaan orang nomer satu di Osaka menjadi duel sengit dua partai besar pula. LDP yang merasa kecolongan dengan kemenangan DPJ pada Pemilu Walikota Osaka tahun lalu, merasa perlu untuk merebut kembali pengaruhnya di tingkat pemilu gubernur. Persepsi yang agak keliru tentang penampilan Pak Hashimoto pada awal pemilu, menjadi sebuah catatan sendiri mengenai kualitas hubungan antar calon dan partai pendukung. Termasuk juga sokongan Koumeitou pada Pak Hashimoto yang terlihat setengah hati. Akhirnya, mereka memang di belakang Pak Hashimoto tetapi tidak secara resmi, karena sadar performa mereka dalam menangani pemerintahan yang masih belum beres (terutama masalah pensiun dan kehidupan sehari-hari) :-P. Sebaliknya calon DPJ, sekaligus saingan terberat Pak Hashimoto, adalah Pak Kumagai Sadatoshi yang didukung oleh DPJ, seorang profesor di Fakultas Teknik Handai (Osaka University). Rasanya, kharisma dan kepopuleran Pak Hashimoto berperan besar dalam mengatasi persaingannya dengan Pak Kumagai di sini.
Namun begitu yang paling mencengangkan dan membuat kagum adalah kepopulerannya dalam berkeluarga. Pak Hashimoto hampir tiap tahun mempunyai anak, dan hingga pertengahan tahun lalu telah mencapai 7 orang (3 laki2 dan 4 perempuan). Sesuatu yang agak di luar kewajaran bagi orang muda Jepang saat ini :-). Tak heran, ia pun pernah dinobatkan sebagai Ayah Terbaik saat Chichi no Hi atau Hari Ayah 2 tahun lalu. Dengan latar belakang kehidupannya ini, maka tak heran jika pendidikan maupun kesejahteraan anak2 mendapat porsi besar dalam program kampanyenya. Dalam bidang pendidikan, kemerosotan prestasi berdasar hasil tes kemampuan belajar se-Jepang memang menempatkan Osaka di urutan bawah (urutan ke-45 dari dari 47 prefektur yang ada). Bagi wilayah “penyeimbang eksistensi Tokyo”, tentu saja hasil ini terasa mencoreng nama besar mereka. Jadi, jika memang besok sore ada kabar bahwa Pak Hashimoto Tooru benar2 terpilih sebagai Gubernur Osaka, tentunya dengan pengalaman politiknya yang masih minim, usia yang masih muda, tak ayal akan menjadi sebuah prestasi sekaligus pekerjaan berat baginya. Siapa tahu, selebriti TV setelah Pak Higashikokubaru akan terus mengguncang Jepang dengan kepiawaiannya memimpin sebah daerah (seperti yang kini juga terjadi di Indonesia :-)). Bagi masyarakat Osaka, dipimpin seorang geinoujin tentu bukan pertama kali, setalah selama beberapa tahun di era 90-an pernah dipimpin oleh bekas pelawak juga, Alm. Pak “Knock” Yokoyama.



Januari 27, 2008 pukul 3:42 pm |
viva Osaka-fu! *pendukung setia hanshin tigers* :D
Jawab:
Sisan update berita, betul2 menang Mas. Beliau (Pak Hashimoto Taroo) dapat suara 1.8 juta, dua kali lipat dari Pak Kumagai. Wis jan, jozz. Publik Osaka pancen fanatik tenan ;-P.
Januari 30, 2008 pukul 8:04 pm |
orang jepang asik yah? terbuka gak sih? sama orang asing ramah tidak? kelihatannya lebih modis, trendy, bener gak?
Jawab:
Mas Bismo, asik atau tidak, bisa subyektif ya. Mas Bismo kan sekarang sedang di Jerman, sebuah prototipe negara maju, pasti bisa merasakannya. Nah jika Jepang, tinggal bayangkan saja orang Jerman tapi masih mampu mendialogkan budaya lama dan baru jadi sebuah kemasan kultur gado-gado, yang kadang juga membuat mereka ambivalen, he..he..
Februari 11, 2008 pukul 10:51 am |
Tapi dia si Hashimoto ini ga mau dibilang geinoujin ya…
Jawab:
Katanya begitu Mbak Mega :-). Kalo di Jepang mungkin Beliau masuk “intere geinoujin” (intelektual geinoujin) :-).