Masyarakat Rendah Karbon

Jika merunut berita2 tentang proses berlangsungnya kegiatan COP-13 di Bali, di sana diberitakan negara2 maju terutama Amerika, Canada, dan Jepang masuk golongan negara maju yang agak menyusahkan. Sikap keras mereka yang menolak target pengurangan emisi bagi negara-negara maju 25-40 persen dari angka emisi tahun 1999 di tahun 2020 atau tuntutan untuk memberlakukan hal yang sebanding untuk negara2 berkembang, terutama China dan India menjadi alasannya. Meski, tak sebandel Amerika yang harus menyatakan bergabung dengan yang lain untuk menyetujui Peta Jalan Bali setelah “ditekan”, maka Jepang pun sebenarnya demikian. Kepasifannya di forum COP-13 pun disindir Prof. Emil Salim, sebagai sebuah tindakan yang njanur gunung, mezurashii, atau lain dari adat sebelumnya di mana mereka sangat aktif untuk menjadi pelopor pada pembicaraan2 perumusan.

Dana adaptasi, alih teknologi, Reducing Emission from Deforestration in Developing Countries (REDD), dan Clean Development Mechanism (CDM) adalah beberapa hasil kunci dari Peta Jalan Bali ini. Dana adaptasi terutama insentif bagi negara berkembang yang terkena dampak buruk perubahan iklim global. Alih teknologi yang telah dirintis pembicaraannya sejalan dengan Protokol Kyoto tapi tak pernah terujud akibat keengganan negara maju untuk berbagi. Dan menurut Suara Pembaruan (19/12) ada tiga hal yang dijabarkan dalam transfer teknologi ini. Pertama, adanya peningkatan dari tingkat pembahasan teknis hingga implementasi. Diputuskan, akan dipercepat jalan penyebaran, penggunaan, dan transfer teknologi yang ramah lingkungan. Kedua, peningkatan aksi penyediaan sumber keuangan dan dukungan investasi pada tindakan mitigasi, adaptasi, serta kerja sama teknologi. Ketiga, Global Environment Facility (GEF) sebagai wujud operasional penerapan konvensi akan menyiapkan program strategis untuk peningkatan development (perkembangan), deployment (penyebaran), dan diffusion (pembauran) teknologi.

Satu program Jepang berupa skenario menuju “Low Carbon Society“ (disingkat LCS) atau Masyarakat Rendah Karbon tampaknya cukup menarik jika ikut disebarluaskan dan dibagi-bagi model usahanya ke negara2 lain, terutama keterkaitan berbagai teknologi dalam kemasan komprehensif ke arah tujuan itu. Skenario ini sebenarnya telah berupa ide yang matang ketika pemerintah Jepang bertekad mengurangi emisi karbonnya sampai 50% dari basis emisi yang dikeluarkan di tahun 1990 pada tahun 2050 nanti. kegiatan risetnya juga telah berjalan sebelum istilah “Cool Earth 2050” telah sering malang-melintang di banyak media. Sampai saat ini skenario “Masyarakat Rendah Karbon” ini terus dikaji untuk memperoleh model yang paling pas untuk diimplementasikan, termasuk memasyarakatkannya untuk negara2 di luar Jepang. Ruang lingkupnya seluruh kegiatan manusia dalam batas2 wilayah tertentu (misalnya kota besar/tengah, kota kecil, atau pedesaan) dan sektor2 terkait yang ada di dalamnya, seperti: perumahan, komersial, transportasi, industri, energi, dan transportasi. Mereka optimis bahwa pengurangan kadar karbondioksida akan bisa tereduksi 70% melalui beragam skenario, dengan jalan mereduksi konsumsi energi melalui rasionalisasi dan pilihan tepat pemenuhan energi pada level permintaan.

Jepang lewat kementrian Lingkungannya mengkaji bahwa LCS akan mampu terujud jika dilandasi prinsip2 yang “mau tak mau” mengubah paradigma hidup masyarakat, dari yang tadinya sangat boros energi kepada sebuah kondisi yang yang sangat fundamental terhadap keluaran karbon yang diproduksi. Prinsip2 itu adalah minimalisasi karbon di semua sektor kehidupan (carbon minimization in all sectors), hidup sederhana yang mampu mewujudkan kualitas hidup yang makin baik (simpler life style that realizes richer QOL, quality of life), dan hidup berdampingan dengan alam (coexistence with nature). Hidup sederhana di situ juga mengandung semangat “mottai nai” (muda ni shinai kokoro gake, sikap untuk berhati-hati, tak boros) yang kini juga istilah yang makin memasyarakat (lihat juga lagu Mottainai-nya Oshiba Lou dkk.). Beberapa gambarannya bisa tercermin dari mobilitas penduduk, cara tinggal dan bekerja, industri, pilihan2 konsumen, sampai pertanian dan hutan yang semuanya mengarah pada beberapa parameter. Termasuk strategi kota kompak yang bakal diadopsi sebagai parameter standar tergantung dari skala areanya. Beberapa kendala atau barriers telah sedikit terpetakan, yakni dari sisi teknis, ekonomi, sosial, dan informasi. Draft pertama dari skenario ini telah dibuka untuk umum bulan ini.

2 Tanggapan ke “Masyarakat Rendah Karbon”

  1. murniramli Berkata:

    Mas-e…
    Tulisane kapan disetor ? :D

    Jawab:
    Lha rak tenan. Sebelum tanggal 10 nanti Mbak, sudah masuk meja redaksi. Dari dulu separuh nggak tambah2 je. Tunggu Mbak, tahun baruan dulu, he..he..

  2. Nurul Berkata:

    kick de habit…. 2wards low carbon.

    Jawab:
    Thanks Ms. Nurul. Let`s do that :-).

Tinggalkan Balasan