Sampah Plastik, Lebih Jauh

Sekedar “mengkliping” perkembangan penanganan sampah plastik di Jepang. Meskipun 3R (reduce, reuse, recycle) telah berlangsung beberapa lama di Jepang, tetapi untuk sampah plastik (purasuchikku) ternyata masih menghadapi masalah. Secara pribadi, sebenarnya hasil 70% pengelolaan sisa sampah plastik yang tidak didaur-ulang di Jepang masih dengan jalan dibakar cukup membuat ekspektasi maupun asumsi sebelumnya terlalu tinggi :-P. Bahkan beberapa daerah, masih belum melakukan pemisahan maupun risaikel bagi sampah plastik ini. Ini terlihat dari survei yang dimuat Asahi Shimbun sekitar seminggu lalu. Yang menjadi daerah survei adalah kota2 berpenduduk lebih dari 500 ribu dan sebagian perencanaannya perlu mendapat persetujuan pusat terlebih dahulu atau seirei shitei toshi dan kota di mana ibu kota prefektur berada.

Dari sekitar 50 kota yang disurvei itu, masih 18 kota belum melakukan pemisahan maupun risaikel bagi sampah plastik. Dari kota yang telah menerapkan kebijakan risaikel sampah plastik, ada sekitar 16 kota yang masih melakukan kebijakan umetate shobun atau risaikel plastik untuk bahan reklamasi lahan, selain proses umum semacam pembakaran (yakichaku). Tentu saja, untuk sampah yang digunakan sebagai bahan reklamasi, kandungan2 B3 nya pun telah dihilangkan. Meskipun begitu, di lain pihak, pembakaran sampah plastik meskipun telah dilakukan secara baik, dengan teknologi tinggi, tetap saja gas buangannya masih menjadi masalah serius. Yang paling berbeda dari data itu, adalah kebijakan risaikel sampah secara menyeluruh di Kota Tottori. Ini baru satu2nya di Jepang. Plastic Waste Management Institute atau Puraschikku Shori Sokushin Kyoukai mempunyai data2 menarik dentang “state of the art” keadaan maupun pengolahan sampah plastik di Jepang ini.

Selanjutnya, meskipun telah banyak usaha dilakukan usaha 3R, sampah plastik terutama tetap menjadi perhatian sendiri. Dengan tetap banyaknya penggunaan plastik untuk berbagai kemasan serta masih dalam tahapan awal penggunaan “my bag” saat belanja misalnya, sampah plastik memang masih saja banyak. Untuk itu, misalnya di Kota Sendai mulai bulan Oktober tahun depan (oktober 2009), akan ada kutipan biaya buang sampah. Biaya ini akan dikenakan pada kenaikan harga kantung sampah, minimal 2-3 kali lipat dari harga saat ini. Dengan demikian diharapkan, masyarakat akan lebih berhati-hati dalam membuang sampah. Minimal produksi sampah bisa ditekan dengan jalan tambahan ini. Memang sangat terasa, untuk sampah keluarga (katei gomi) pembuangannya bisa ditekan dibanding sebelumnya yang 3x/2 minggu menjadi sekali saja dalam seminggu (dari 2 hari yang disediakan dalam seminggu), sedang sampah plastik dan pet-botol masih saja rutin sekali seminggu.

Jepang sendiri seperti yang banyak dilansir oleh media, bertekad untuk mengurangi pembuangan CO2 sampai 50% dengan terget tahun 2050 nanti. Program yang sebenarnya diinisiasi oleh Pak Abe ini pun akan tetap dijalankan oleh Pak Fukuda sebagai penerusnya. Termasuk dalam konsesi ini, perusahaan2 di Jepang pun bertekad untuk mendukung program resmi pemerintah ini. Triumph Jepang saja sampai mengeluarkan “buraja” yang bisa untuk tas kresek belanja kok :-P. Secara global, kebijakan Jepang untuk memulai mengubah perilaku sehari-hari dalam konteks pengurangan hemat energi ini mendapat catatan tersendiri dari penerima nobel perdamaian tahun ini, IPCC, lewat ketuanya, Pak Rajendra Pachauri. Contoh2 sederhana yang mulai diterapkan saat Pemerintahan Pak Koizumi macam cool-biz, dan saat musim dingin ini -warm biz- tampaknya memang berhasil menjadi praktik nasional.

About saniroy

Muhammad Sani Roychansyah. Male. Indonesian. Lecturer and researcher at Gadjah Mada University. Research Fellow at Tohoku University. Married and has 2 children. With family living in Sendai, Japan.

Posted on November 7, 2007, in Cities-Urbanism, Daily Life, News Insights, Socio-Culture, Sustainability. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Ga kebayang deh…di Jepang yang sudah menerapkan 3R secara serius saja, masih pusing dengan sampah plastik. Gimana dengan di Indonesia yang begitu cue’nya dengan pengelolaan sampah. Jangankan untuk memisahkan, untuk menerapkan 3R aja kaya’nya beraaattt banget.

    Jawab:
    Tetap semangat Mas Be. Matur nuwun ampirannya.

  2. Assalamu’alaykum
    Mas Sani, pengen tanya dong ttg:
    1. Pulau xxx (afwan, lupa), pulau di dekat Tokyo yang sengaja direklamasi untuk TPA.
    2. Upaya pengajaran dan pendekatan peduli lingkungan pada anak-anak Jepang (spt di youchien, sd-nya, or yg lainnya); belajar 3R juga ya; tas selempang sampah kuning masih berlaku?; anak mas sani diajarin apa aja?
    3. Mas Sani sendiri ngompos di rumah? milah?
    4. Buku yang mudah dicerna untuk belajar bahasa Jepang
    Kalo panjang, kirim ke mailku ya mas. Domo arigatou. ^_^ Jazakallahukhoiron.

    Jawab:
    Wa`alaikum salaam. Terima kasih kunjungan dan pertanyaannya Mas/Mbak Syamiim. Langsung dijawab sebisa saya ya.
    1. Pulau “Yumenoshima” (Pulau Mimpi)? Dulunya memang untuk TPA dan sampah sekaligus untuk mereklamasi “pulau” (sebenarnya sih pulau buatan dan mudah diakses) tersebut. Tapi setelah memasuki ambang batas, maka dibangun lah Pulau ini menjadi tempat menarik sebagai tempat rekreasi. Silakan liat situsnya di Yumenoshima, di sini http://www.yumenoshima.jp/ Beberapa lokasi/sektor berikutnya juga dialokasikan di sekitar daerah ini.
    2. Iya, bahkan lewat pendidikan sejak kecil ini lah tampak merupakan salah satu kekuatan sosialisasi pendidikan lingkungan. Saya pernah menulis di sini secara implisit pengenalan lingkungan pada anak ini. Oya, untuk anak2, saya hanya melanjutkan kebiasaan mereka di sekolah dipandu dengan beberapa ketentuan yang harus dijalankan oleh masing2 keluarga di Jepang. Minimal, kalo mereka mau membuang sampah, mereka tanya dulu, kertas, plastik, atau lainnya. Lingkungan “jichikai” atau “chounakai” (RT/RW kalo di Indonesia) juga menjadi jalan bagi kontrol terhadap pelaksanaan 3R ini.
    3. Saya tidak ngompos di rumah, mungkin kalo di Indonesia nanti diusahakan begitu. Saat ini hanya tertib memilah-milah sampah saja. Mudah2an hal2 kecil ini secara istiqamah mampu dilestarikan saat pulang di Indonesia.
    4. Waduh pertanyaan yang agak sulit, sebab tergantung kondisi dan tujuan belajar bahasanya. Saya dulu pertama kali menggunakan “shin nihonggo no kisho” (atau Dasar Bahasa Jepang, baru). Setelah tamat ini bukunya macam2, saya lupa. Ada pula “Japanese for Busy People”. Mungkin ke toko buku yang agak lengkap dan melihat serta membandingkannya, akan lebih mudah Mas/Mbak.
    Demikian dulu ya. Maaf dan terima kasih. MSR

  3. Memang susah-susah gampang menumbuhkan kesadaran akan lingkungan sehat, khususnya untuk orang Jakarta yang sudah hampir lepas kerekatan sosialnya. Apresiasi untuk tiap usaha sekecil apa pun perlu dilakukan, agar orang terdorong dan semakin banyak orang terinspirasi untuk mengikuti jejak yang baik dan sehat. Meski udah terlanjur ketinggalan jauh mungkin dari Jepang, atau beberapa daerah lainnya di INDONESIA, silakan kunjungi berkahsampah.blogspot.com.

    Jawab:
    Trima kasih Mbak Inge atas kunjungan dan komentarnya. Setuju, semua usaha tentu harus dimulai dari usaha dengan skala kecil. Asal konsisten, semuanya -Insya Allah- akan menuju pada perbaikan. Saya sudah kunjungi blog berkahsampah-nya. Maaf dan trims, MSR

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: