Berita yang pertama dirilis oleh Koran Asahi edisi Jepang tanggal 4 Mei lalu ini tadi pagi benar2 dicoba oleh Mino Monta dalam Asa-Zuba-nya. Minuman (kopi, jus) gratis dalam sebuah mesin penjual otomatis (jidou hanbaiki, mungkin karena tidak lagi menjual maka boleh jadi istilah mesin ini jadi berbeda?). Sebagai gantinya, saat mesin itu mempersiapkan pilihan kita, selama 30 detik monitor di mesin penyedia itu akan memutar iklan2 atau pun info2 yang dipasang. Jadi, info atau iklan sponsor yang diterima itu hanya opsi saja, boleh dilihat atau tidak ;-). Nah, sejalan dengan selesainya iklan maka kopi sesuai dengan pesanan kita telah siap disruput. Mesin tersedia dalam berbagai bahasa asing, termasuk dalam Logat Kansai (Kansaiben). Untuk mesin biasa, kopi2 itu dijual dengan harga 70-80 Yen. Dan dalam mesin itu, semuanya gratis.
Availabilitas (ketersediaan) “media cafe” dengan mesin2 penyedia minuman (vending machine) gratis ini akan dimulai bulan depan. Dan sementara akan dimulai dari Tokyo. Menurut rencana, seperti dilansir oleh konsultan ide ini, Willbe, dan penyedia infrastrukturnya Avex akan menyediakan (secchi) sebanyak 35 ribu mesin sejenis di seluruh Jepang, dengan prakiraan bisa menyediakan 5-6 juta cup/tahun atau dengan prakiraan angka bisnis sebesar 4 oku yen (400 juta yen). Seperti yang disebut Mino Monta tadi pagi, mesin2 ini akan dipasang di RS, Universitas, Kantor Pemerintah.
Pada kesempatan yang sama, TBS TV juga sedikit memberi pengantar fenomena baru, penyebaran informasi kepada masyarakat dengan imbalan kemudahan berbentuk barang/jasa tertentu ini. Setelah fenomena majalah2 gratis, mesin foto kopi gratis, maka berita rencana vending machine gratis ini semakin meneguhkan sistem baru dalam penyebaran informasi. Untuk foto kopi gratis sendiri disebut sudah mulai disebarkan ke 47 universitas di seluruh Jepang. Belum diketahui apakah tak ada batasan untuk memfoto kopinya. Tapi yang jelas kertas yang diterima di baliknya berisi info2 dari pihak sponsor. Sama sekali tak masalah, apalagi memang kertas2 bekas di masih terus dimanfaatkan untuk usaha penggunaan ulang ini (reduce, reuse, recycle).



Mei 20, 2007 pukul 11:15 pm |
doohh… Kansaiben lagi-lagi dibahas di sini. berasa nista aja yah orang kansai! padahal nekat serta norak-norak bergembira ala kansai itu selalu dipuja-puja lho! hehehe. sing jenenge urusan gratisan aku mesti nomer siji, mas! hidup gretong :D
*sekali lagi… iki jan komentar ra mutu tenan* :-P
Jawab:
Salah ungkapane Mas. Bukannya menistakan, tapi malah menghormati eksistensi Kansai-ben. Coba diganti logat2 yang lebih pinggir, Tohoku-ben atau Kyushu-ben nanti malah dikira bahasa dari negara lain XD.
Meski komentare dianggap ra mutu dewe, tapi tetep tak loloske kok :-). Eniwe, kapan mampir Yapun meneh Mas, mumpung aku isih nang kene?
Mei 23, 2007 pukul 3:34 pm |
kapan mampir Yapun maneh? hehehehe…
ono koncomu sing iso disogok ora, mas? paling ngga yg berkuasa menentukan lolosnya kandidat IATSS Forum kuwi lho! dgn begitu setidaknya ada jaminan aku bisa menengok keberadaanmu di sana… hahaha *pingsan*
Jawab:
Wah iya, saya bar disurati peserta IATSS Forum tahun ini yang kebetulan satu almamater. Tapi mosok sih “Juragan Pemberdayaan Pemuda” harus pakai jalan nyogok :-p. Taun yang akan datang, muga2.