Clustered Compactness

Isu2 pembangunan kota, misalnya strategi “kota kompak” (compact city) di Jepang telah mendapat tanggapan semestinya. Mulai perguruan tinggi, lembaga riset, sampai wacana/penerapannya oleh pemerintah2 daerah semakin intensif. Informasi yang berisi isu maupun prinsip2 kota kompak pun telah semakin mudah diperoleh bagi sebagian masyarakat Jepang. Memang dikaitkan dengan berbagai isu seperti makin sedikitnya penduduk di kota2 kecil dan isu pengetatan fiskal daerah melalui usaha memperkecil (downsizing) aset2 pemerintah daerah (termasuk bagi pembangunan dan perawatan infrastruktur), maka wacana ini mendapatkan momen tepat untuk terus menggelinding.

Buku yang membahas khusus tema ini saja (dengan secara eksplisit menyebutkan “kota kompak” (konpakuto shiti) dalam judulnya) sudah berlipat-lipat, tahun 2002 hanya ada 1 buku (Pak Kaidou Kiyonobu), saat ini menjadi 4 buku. Tiga lainnya isinya mulai mengaitkan dengan kasus2 yang tengah berjalan di Jepang. Bukunya Pak Yamamoto Kyouitsu khusus mengupas kasus di Kota Aomori. Buku Pak Matsunaga Yasumitsu membahasnya ber-sama2 strategi lain untuk beberapa kasus juga. Yang terakhir terbit bulan Februari 2007 lalu adalah buku dari Pak Suzuki Hiroshi yang banyak mengupas data2 kemungkinan penerapannya di Wilayah Tohoku (Beliau juga termasuk kontributor tetap di forum ini). Belum lagi yang menggunakan istilah lain, seperti pembangunan kembali pusat kota dll. (chuushin shigaichi kasseika).

Pamflet resmi dari Pemkot (shisei da yori, misalnya di Kota Sendai)  yang dirilis tiap awal bulan dan dibagikan ke seluruh rumah warga itu juga merupakan salah sebuah alternatif penyebaran2 informasi-komunikasi dari pemerintah ke warganya. Dari visi dasar kota ybs. sampai rencana beberapa pembangunan dalam kota sering secara gamblang disajikan. Termasuk sasaran: konpakuto de kurashiyasui toshi kouzou e (menuju struktur kota yang kompak dan mudah ditinggali). Yang terakhir, misalnya berapa batang pohon yang akan dipindah gara2 pembangunan subway jalur barat-timur itu pun bisa diinformasikan secara detil (ada 50 pohon di Aobadoori, 31 batang demi pembangunan Stasiun Ichibancou dan 19 lainnya demi pembangunan stasiun Nishi-Kouen. Tak lupa rencana penggantian maupun pemindahannya pun dilaporkan lengkap).

Meski begitu dan didasarkan pada kondisi sosial-kemasyarakatan yang tengah berjalan di Jepang (discontinous maupun discontiguous (?) urban growth), tampaknya secara geografis, kota2 kecil di Jepang tak akan banyak berubah. Secara struktur mungkin saja mereka mencapai kondisi kompak dengan tetap memiliki satu “single center”, tapi tidak disertai dengan intensifikasi penduduk atau (bahkan) kegiatan di pusat kotanya. Tentu saja, ini juga tak memenuhi prasyarat kota kompak sesungguhnya. Kondisi ideal mungkin akan tercapai pada kota2 tipe sedang dengan penduduk di atas 100-400 ribu dan dengan syarat tetap menarik bagi penduduk untuk tinggal. Sedang kota2 besar pun akan tetap memiliki struktur multi-center atau polisentris (mempunyai lebih dari 1 pusat, beberapa pusat kegiatan) dengan kecenderungan pembagian konsentrasi area kegiatan.

Morfologi atau bentukan kota di kota2 besar Jepang itu nantinya seperti pernah ditulis Pak Hayashi Yoshitsugu akan tetap menganut tipe klaster atau multi-center, bukan tipe terkonsentrasi dengan single-center (concentrated, contoh Manhattan, New York) atau tipe homogen (homogenous, contoh Paris). Kasus ini juga terjadi di Sendai, di mana perkembangan subcenter di Izumi dan Nagamachi terus semakin kuat. Pembangunan di sekitar wilayah Stasiun Nagamachi juga akan memperkuat kecenderungan ini (Proyek Hari Esok dan Nagamachi, Asu to Nagamachi Projekuto).

Satu Tanggapan ke “Clustered Compactness”

  1. tantra Berkata:

    aduh pusing deh.

    Jawab:
    Sudah juga ke dokter? Perlu obat mungkin? :-)

Tinggalkan Balasan