Mega Event: Untung, Buntung?

Tulisan “ngayawara” ini dipicu oleh terpilihnya Wilayah Danau Toya (Toyako) di Hokkaidou 3 hari lalu sebagai calon tuan rumah atau penyelenggara pertemuan tingkat tinggi (summit) G8 musim panas taun depan (2008). Meski dipilih berdasar kewenangan seorang PM di diri Pak Abe, tapi tampaknya alasan yang dikemukakan cukup “bijaksana”, terutama mengenai alasan “kankyou” atau lingkungan dan “keibi” atau penjagaan. Jelas, karena masuk dalam taman nasional yang dillindungi maka selain secara otomatis masuk kategori protektif terhadap lingkungan, akses ke wilayah itu pun sangat terbatas ;-). Dipilihnya tempat ini mengalahkan beberapa kota yang memang telah punya pengalaman sebagai tempat penyelenggaraan even2 besar lain: Yokohama, Segitiga Kansai (Osaka-Kyoto-Kobe) atau wilayah2 yang sebenarnya juga berkategorikan masih “hijau” atau akrab lingkungan di wilayah Niigata dan Seto (antara Kagawa-Okayama).

Melihat fotonya, jadi teringat Davos (permen pedes Davos masih ada nggak ya? ;-)), dataran tertinggi di Eropa yang terletak di Swiss yang juga punya karakter sama: tetap adem di musim panas dan keindahannya adalah gabungan antara perbukitan yang tinggi menjulang dan danau elok di kaki bukitnya. Saat itu sempat mampir sebentar ketika mengikuti joint presentation antara ETHZ dan Sekolah yang mempunyai spesialisasi perencanaan wilayah dingin di tahun ‘98-’99. Untuk pemilihan Toyako-cho (Toyako-Town) ini di sampng alasan di atas, juga akan menjadi pendorong (booster) bagi pembangunan di wilayah tersebut. Dengan begitu alasan pemerataan pembangunan yang saat ini sangat sering muncul sebagai materi pembicaraan (kakusa) dalam masyarakat Jepang  memang menjadi sedikit ada obat penawarnya.

Tapi sebenarnya kecuali hanya sekejap membuat kebanggaan (semu, weh opo meneh iki!) warganya, apa benar efek pembangunan even2 besar ini bisa berpengaruh pada kehidupan masyarakat secara luas? Bukan hanya pas berlangsungnya even saja, tapi berkelanjutan atau terus-menerus? Apalagi even2 ini sebenarnya hanya berlangsung sekejap mata (kalo semacam summit atau konferensi) atau kalo kegiatan olahraga ya paling tak lebih dari sebulan. Bagaimana mereka memikirkan impasnya pembiayaan pembangunanannya (BOP)? Dulu ada sempai di ETHZ yang menulis disertasi tentang ini. Beliau melakukan risetnya dengan membandingkan beberapa master plan kota, skala even dan pengaruhnya terhadap perubahan sistem transportasi dan tata guna lahan kota. Tapi dicari kok tidak ketemu, malah ketemu presentasinya Pak Bovy tentang perencanaan dan manajemen transportasi untuk skala event besar yang juga pernah jadi dosen tamu di sana juga. Yang jelas, studi kasus Beliau adalah lintas benua: Kunming Expo tahun 1999 di Wilayah Yunan-China, Lisabon Expo 1998 di Eropa, dan Kota Atalanta sebagai bekas tuan rumah olimpiade musim panas 1996.

Kota Barcelona sering menjadi referensi contoh baik dalam memanfaatkan efek menerus dari olimpiade (1992) yang pernah diselenggarakannya. Untuk skala Jepang bisa disebut misalnya Kota Suita di Osaka, lengkap dengan Banpaku Kinen Kouen di Osaka dan taiyou no tou-nya (tower matahari tapi malah mirip bebek mengepakkan sayap ya?) yang merupakan landmark yang tersisa dari penyelenggaraan World Expo 1970 (nihon bankoku hakuran-kai). Kota kecil penuh bambu di pinggiran yang memang kemudian mampu berkembang menjadi salah satu kota padat di Wilayah Osaka. Mungkin hal yang sama akan terjadi pada kota2 di Aichi bekas tuan rumah penyelenggaraan Aichi Expo 2005 lalu (Nagakute, Seto, dan Toyota) bersama “dinding hijau”nya itu (?). Atau untuk Olimpiade 1964 di Tokyo yang menyisakan Yoyogi tadium yang didisain oleh Kenzo Tange dan Nippon Budokan oleh Yamada Mamoru yang juga pendisain Tokyo Tower.

Jelas dari sedikit contoh itu ada memang keuntungan yang langsung dirasakan masyarakat dan mampu mendorong tumbuhnya (ekonomi) daerah. Tapi banyak pula yang belum secara jelas terbukti, seperti seberapa jauh GDP sebuah negara akan terdongkrak dengan penyelenggaraan even besar singkat itu (data, data, data!), atau malah terus menguras kocek anggaran perawatan seperti kasus Stadion Miyagi di Rifu itu? Ya minimal nilai kenangan, memori dan sejarah sebuah peristiwa memang ada kalanya menarik bagi “serombongan” turis untuk sekedar menapaktilasinya, termasuk sing nulis ;-).

3 Tanggapan ke “Mega Event: Untung, Buntung?”

  1. Sri Nugroho Berkata:

    Menarik mas, njenengan bisa ndak memprediksi dg diadakannya event penting di suatu kota bisa meningkatkan pendapatan daerahnya (GDP?)? Wah nek wis iso, mari postdoct mulih yogya iso langsung dadi prof. sani plus okane mochi mas. Amiiin.

    Jawab:
    Weh tumben, Mas Nonot memberi komentar ;-). Untuk neliti njlimet seperti begituan, saya nggak punya ilmunya je, biar yang berkompeten saja. Eniwe, meski menyatakan tidak sanggup, dongane tetep saya suwun lho ya :-D. Mdtk, MSR

  2. dodski Berkata:

    lhooo… ada yg berani meragukan kompetensi mas-ku yg paling ngganteng iki? *ngasah-ngasah belati* :-D

  3. G8 & Bumi Makin Panas « A SUNNY DAY Berkata:

    [...] Jepang, momen ini juga digunakan untuk belajar juga menghadapi pertemuan serupa yang akan diadakan di Danau Toya di Hokkaido, musim panas taun depan dan pertemuan2 tingkat menterinya di beberapa kota lain. Termasuk juga [...]

Tinggalkan Balasan