Kehilangan Pom Bensin

Selama tinggal di Sendai yang menginjak tahun ke-8 ini, sudah ada lebih dari 4 buah pom bensin dalam kota yang ditutup. Pertama pom bensin yang benar2 di tengah kota di Higashi ni banchou doori, disusul pom bensin dekat Hachiman Jinja, ketiga pom bensin di dekat Nishi Koen, dan terakhir pom bensin langganan di depan Tohoku Daigaku Byouin (RS. Universitas Tohoku) pun ikut2an ditutup. Padahal pom bensin (gasorin sutando) itu lah yang paling dekat dan enak aksesnya, khususnya jika pengisian bensin dilakukan sebelum naik ke Aobayama Kampus. Dulu memperkirakan pom bensin2 itu akan muncul di lokasi lain di dalam kota, ternyata tidak. Di Sendai sendiri, menurut info dari petugas pom bensin lain secara langsung, memang pom bensin dalam kota semakin sedikit, atau berubah menjadi jenis swa-layan (ngisi sendiri, serufu keishiki) yang memang menurut survei kecenderungannya lebih banyak disuka.

Fenomena tutupnya banyak pom bensin ini, selain dipacu oleh makin mahalnya harga bahan bakar di Jepang, juga berkaitan langsung dengan upaya Jepang dalam upaya “shizen ni chikazuku” (lebih dekat ke alam) dan kampanye “chikyuu ondanka taisaku” (kebijakan melawan panas global yang banyak diterapkan dalam keseharian mereka. Kebijakan ini terutama erat hubungannya dengan tata guna lahan dan transportasi. Tata guna lahan dipelopori oleh mengoptimalkan ruang2 dalam pusat kota (terutama kota besar) tidak saja untuk komersial dan perkantoran, tapi juga untuk hunian (mixed use development) hingga lebih “singset“. Hasil dari pembangunan ini pun akan berimbas langsung pada transportasi kota yang makin meminimalisir penggunaan mobil pribadi. Sementara itu mahalnya harga bahan bakar dan desakan untuk lebih ramah lingkungan juga makin memacu produksi2 mobil hibrid yang irit bahan bakar.

Data penjualan mobil dari ikatan dealer se Jepang (JADA, Japan Automobile Dealers Association) juga menunjukkan bahwa penjualan mobil secara keseluruhan menurun, tetapi penjualan mobil kecil dan ringan (keijouyousha) meningkat penjualannya dibanding tahun2 sebelumnya. Memang salah satu yang dilakukan adalah mereformasi pajak untuk mobil2 jenis kecil ini, mendorong bidang riset dan pengembangan mobil ramah lingkungan (green car), selain kebijakan/regulasi yang menyangkut pembiayaan maupun intensif terkait bidang tranportasi dan industri otomotif ini. Diharapkan pada tahun 2030 nanti mobil2 Jepang ini diharapkan bisa efisien sampai 60% dari yang ada saat ini. Upaya ini terus berjalan dan memang hasil buangan CO2 dari mobil bisa lebih ditekan.

Dari banyak sumber, antara lain di sini Jepang memang termasuk negara yang sangat antusias untuk menerapkan standar bahan bakar yang efisien, ekonomis, dan tentunya menjadi ramah lingkungan. “Japan’s new Fuel Economy Standards, targeted for fiscal 2015, aim to achieve a remarkable improvement in automobile fuel economy, according to an interim draft released on December 12, 2006, by the Ministry of Economy, Trade and Industry, and the Ministry of Land, Infrastructure and Transport. Assuming that shipment volume ratios remain the same as those in fiscal 2004, the new standards will improve fuel economy values by 23.5 percent for passenger cars, from 13.6 kilometers to 16.8 kilometers per liter, 7.2 percent for small buses and 12.6 percent for small freight trucks. The standards categorize passenger cars into 16 segments, small buses into two segments and small freight trucks into 77.”

Tinggalkan Balasan