***Diposting di milis terkait.
Akhir bulan April lalu, Pemerintah Jepang sepakat untuk memasukkan usulan Reformasi UU Pendidikan ke Diet/Parlemen. Dan naga-naganya bakal lolos juga, sebagai target hadiah mundurnya Pak Koizumi September nanti. Ini adalah UU Pendidikan baru yang akan menggantikan UU lama produksi taun 1947, pasca PD II. Beberapa periode sebelumnya UU ini sudah diusahakan diperbarui, tapi selalu mentok.
Yang menarik dan tentunya dilatarbelakangi oleh perkembangan dewasa ini, di UU ini, Jepang memasukkan “rasa cinta negara dan tanah air” (aikokushin) sebagai target/sasaran pendidikannya. Ini juga yang memicu perdebatan panjang di kalangan partai yang berkuasa (jimintou dan koumeitou) tentang pemahaman dan aplikasi di lapangan untuk cinta negara ini, karena kekhawatiran dibelokkan menjadi hanya setia pada lambang2 negara, seperti pemerintah, bendera, dll. Meski begitu mereka tetap konsisten memasukkan pembangunan dan perdamaian dunia (kokusaishakai no heiwa to hatten).
Dalam UU yang baru ini, ada kemungkinan basis pendidikan Jepang yang terkenal dengan istilah ”yutori kyouiku” (lambat asal selamat) akan pula mendapat revisi. Meskipun sistem ini adalah merupakan metode untuk mencapai tujuan seperti “pembentukan manusia mandiri dan kreatif”, tetapi tampaknya akan diperbarui. Ini dikarenakan kritik terhadap pendidikan Jepang, terutama kemampuan siswanya di beberapa pertemuan internasional. Mereka banyak dikalahkan oleh para siswa dari negara terdekat tetangga mereka, seperti China, Taiwan, dan Korsel.
Perbedaan orientasi juga terlihat dari perbandingan antara UU lama dan baru pada bagian pendahuluan/preambule-nya. Yang Lama hanya menekankan pada pentingnya pendidikan bagi peningkatan harkat seseorang dalam konteks kesejahteraan. Yang Baru menyeimbangkannya ke dalam cakupan luas seperti pencarian kebenaran, respek pada publik, menghargai tradisi, dan pencapaian budaya baru.
Selain itu, dalam target pendidikannya yang lain muncul, istilah2 seperti: pendidikan yang berorientasi ke kerja (shokugyoukyouiku), pendidikan lingkungan (kankyoukyouiku), dan penghargaan pada tradisi-budaya (dentoubunka no sonchou). Satu lagi mungkin munculnya secara eksplisit istilah “daigaku” (universitas), “shiritsugakkou” (sekolah swasta), “kateikyouiku” (pendidikan keluarga), “shougaishakyouiku” (pendidikan bagi para diffabel), dan “youjikyouiku” (pendidikan usia balita) sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan di Jepang.
Beberapa opini atau reportase koran mengenai reformasi UU Pendidikan ala Jepang ini ada di sini:
http://www.yomiuri.co.jp/dy/national/20060429TDY04004.htm
http://www.asahi.com/english/Herald-asahi/TKY200604290115.html
http://www.asahi.com/english/Herald-asahi/TKY200604290112.html
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/04/060428_patriotisme.shtml
Jika penasaran membandingkan produk lama dan baru juga bisa,
Fundamental Law on Education (UU Pendidikan) – Lama
http://law.e-gov.go.jp/htmldata/S22/S22HO025.html 11 Pasal
Fundamental Law on Education (UU Pendidikan) – Baru
http://www.yomiuri.co.jp/kyoiku/special/s03/20060426tv03.htm 18 Pasal
Semuanya berbahasa Jepang. Untuk mengetahui sekilas Inggrisnya (meski agak aneh hasilnya), potong jadi 3 bagian (alasan kapasitas 2000 huruf) lalu copas-kan ke http://www.excite.co.jp/world/english/?before=&wb_lp=JAEN
Secara pribadi heran juga, hampir 60 tahun Jepang baru mengubah UU Pendidikan yang dianggapnya sudah terlalu kadalu warsa, tapi “berhasil” menelurkan prestasi pendidikan kaliber dunia. Dan ketika dibaca sangat lah sederhana, 18 pasal. Bandingkan dengan UU Sistem Pendidikan Nasional kita (UU No. 20/2003) yang terdiri dari 77 Pasal.



September 21, 2006 pukul 4:09 pm |
[...] Setelah terpilih sebagai Ketua Partai kemarin (lihat posting sebelumnya), Abe Shinzo dalam jumpa pers untuk mengungkapkan kesan-pesan kemenangannya, menegaskan bahwa yang paling dekat harus digolkan adalah tentang reformasi pendidikan. Kok ya dalam pidato tanpa teks yang juga janji itu yang terlintas dan langsung dipilih adalah “pendidikan” (bangsa) ya? (Jan elok tenan, he..). Ini akan ditempuh Jepang dengan merevisi undang-undang pendidikannya. Ceritanya pernah ditulis di dengan judul Cinta Tanah Air ala Jepang. Dan kalo dilihat, ini adalah salah satu implementasi manifesto Abe (Utsukushii Kuni E) dalam bidang pendidikan. [...]