Dilema Anak dan Sepeda

Maret 6, 2008

Kecuali bakal bertambahnya biaya hidup dengan naiknya harga makanan, bahan bakar, per April taun ini berdasar beberapa kabar dari media akhir taun lalu, maka yang sangat patut disyukuri bertepatan dengan ditinggalkannya Jepang adalah beberapa regulasi kemasyarakatan yang makin ketat. Regulasi baik untuk orang asing maupun masyarakat Jepang secara umum. Yang paling gres adalah akan ditinjaunya “izin” memboncengkan 2 anak dalam sebuah sepeda yang umum terlihat di Jepang (eh, bahkan 3 orang, lha yang satu kadang digendong di belakang). San nin nori dalam bahasa Jepangnya (3 orang naik secara bersamaan). Meski begitu, tetap saja Jepang masih bisa menjadi pilihan bagi orang2 yang mampu menyesuaikan diri dan bersungguh-sungguh, baik untuk bekerja maupun belajar. Ini kondisi yang masih benar2 banyak buktinya, meskipun misalnya beasiswa Monbusho yang dulu terkenal paling gagah dan menjadi patokan bagi beasiswa2 lain misalnya, saat ini fasilitas yang diberikannya pun makin “kitsui” (menyesakkan) misalnya :-(.

Kembali ke masalah san nin nori, berita2 kemarin dan hari sebelumnya, yang dimulai dengan pengumuman NPA (National Police Agency) secara resmi kemarin sore tentang bakal ditinjaunya kebebasan naik sepeda di Jepang. Kebebasan di sini diartikan sebagai penegakkan kembali aturan bersepeda sesuai aturan. Tindakan ini diambil akibat banyak dilanggarnya aturan bersepeda yang baik dan benar di Jepang. Selain memboncengkan 2 anak balita depan dan belakang, maka yang bakal ditertibkan adala bersepeda sambil berimil-ria, bersepeda sambil mendengarkan i-pod, walkman atau sejenisnya, bersepeda sambil membawa payung, dan lainnya. Kalo pun kurang, tentu polisi bisa menambahnya dengan pelarangan bersepeda sambil makan, sambil merokok, sambil mengobrol, sambil melamun, dan lain2, he..he.. Kata pihak Kepolisian Jepang, alasannya adalah demi keamanan si pengendara sendiri dan kenyamanan pengguna jalan atau masyarakat lain di sekitarnya. Meskipun data menunjukkan kecelakaan bersepeda sangat rendah, tapi kategori ketaknyamanan dari pihak2 lain cukup banyak.

Khusus untuk peninjauan kembali izin san nin nori, tentu saja sedikit banyak menyedot perhatian masyarakat. Bagaimana tidak, bagi para ibu2 Jepang yang terkenal perkasa (dan sebagian bapak yang melakukannya), memboncengkan 2 anak kecil dengan sepeda adalah keseharian yang cukup meringankan beban mobilitas mereka. Dengan anjuran beranak banyak misalnya (untuk mensiasati shoushika mondai, makin rendahnya tingkat kelahiran di Jepang), maka niatan peninjauan kembali ini diniali cukup meresahkan. Di Tokyo, berita ini cukup mendapat penolakan, terutama dari para ibu yang berkategori “kosodate okaasan” (para ibu yang punya tanggung jawab keseharian dalam pemerliharaan anak, utamanya antar-jemput anak dengan sepeda). Mulai 3 tahun lalu, kalo tak salah, anjuran untuk melengkapi anak2 dengan helm juga telah dilakukan. Namun tampaknya, keamanan para ibu dan anak2 mereka pun masih disangsikan. Pengalaman pribadi bertahun-tahun melakukan “san nin nori” ini pun membenarkan timbulnya ketakseimbangan bila memboncengkan 2 anak sekaligus.

Pelarangan memboncengkan 2 anak, tentu saja perlu dipikirkan secara matang penerapannya. Dengan kondisi masyarakat Jepang yang di satu sisi dituntut untuk memprioritaskan kesejahteraan anak (termasuk melipatgandakannya :-)), terbatasnya fasilitas hoikuen/youchien (penitipan anak/taman kanak2) yang terjangkau dari sisi aksesibilitas baik dari rumah maupun dari tempat bekerja para ortu, bisa jadi “rerasan” pelarangan per April 2008 ini akan menjadi kontra produktif. Bahkan ditakutkan larinya akan ke mobil seperti laporan Yahoo atas survei di situs BabyCome, sehingga menjadi bumerang bagi program aksesibilitas ramah lingkungan (bicycling, walking). Meskipun begitu, berdasar poling juga, mayoritas jawaban masih rasional bahwa memang tindakan itu dilarang dan berbahaya, sehingga menjawab”shikata ga nai” (apa boleh buat), 57%. Yang menjawab “kinshi subeki dewanai” (seharusnya tidak dilarang) menyusul di urutan kedua, sebesar 34%. Lainnya mengisi lain2. Bisa jadi yang menjawab seharusnya tidak dilarang itu adalah orang yang benar2 merasakan masalah yang bakal dihadapi bila pelrangan itu benar2 dilakukan.

Pihak berwenang dan industri pun sebenarnya telah memikirkan sebuah inovasi sepeda yang aman dan nyaman bagi ortu dengan 2 anak, misalnya melalui usaha Land Walker Jepang yang membuat dobel roda belakang maupun depan (menjadi 3 buah, sanrinsha) untuk menunjang kestabilan sepeda misalnya. Juga studi banding ke negara2 lain, terutama di Skandinavia (khususnyaDenmark) yang telah cukup familier dengan sepeda mirip becak (misalnya Kangaroo Denmark ini). Namun begitu, jika disain sepeda roda tiga seperti ini dieksekusi, maka lahan parkir sepeda pun tentu ikut berubah. Kajian terhadap kebijakan ini tampaknya menarik untuk terus diikuti.


Obama: Kotak-Katik “Gathuk”

Maret 5, 2008

Nama Barack Obama, calon presiden AS dari Partai Demokrat yang masih harus memastikan kemenangan terakhir atas Hillary Clinton itu, bisa jadi jualan tersendiri bagi sebuah wilayah di Jepang yang bernama sama. Wilayah itu adalah Kota Obama (”o” yang berarti kecil dan “hama” yang berarti pantai), sebuah kota dengan penduduk sekitar 30 ribu di bagian selatan Prefektur Fukui (Jepang barat). Seperti kota2 kecil Jepang pada umumnya, Kota Obama pun menghadapi lesunya ekonomi dan masalah kependudukan yang serius. Naiknya Barack Obama yang namanya persisi sama dengan nama kota mereka, mengilhami mereka untuk memanfaatkan momentum ini sebagai “obat kuat” untuk menyuntik semangat bagi keseharian di kota mereka. Intinya, nama Obama telah mampu menjadi iklan sempurna bagi keberadaan kota mereka.

Seperti yang ditulis di the Japan Times, tengah Februari 2008 lalu: “The reasons for the support have less to do with international politics and more to do with local tourism. “If Barack Obama becomes president, the name Obama will become world famous, and our city will be known around the world,” said Fujiwara (a local hotel manager), explaining the purpose of the group’s founding. Obama is a port town with a 1,300-year history, and was once a center of trade between ancient Nara and China and the Korean Peninsula. Today, it’s known locally for its seafood and nationally for the large concentration of nuclear plants the nearby Wakasa Bay region. It is also the home of Yasushi Chimura and his wife Fukie, two of the five Japanese who returned to Japan in 2002, a quarter-century after they were abducted to North Korea”.

Tampil dan menangnya Pak Obama tentu akan punya pengaruh yang kuat terhadap “eksistensi Kota Obama” juga, minimal selama 4 tahun kepresidenannya, misalnya, maka secara resmi Pemerintah Kota Obama pun memberikan dukungan resmi atas kampanye yang tengah dilakukan Pak Obama saat ini Di kalangan “grass root” pun mereka telah berinisiatif untuk memanfaatkan dukungan maupun kepopuleran Mr. Obama dengan menciptakan produk2 makanan Kota Obama yang spesifik dengan personalitas Barrack Obama. Obama Fever (Obama fiibaa) lah. Agak tak masuk akal, tapi semuanya bisa dibuat riil di Yapun. Misalnya saja bertepatan dengan hari pungutan di negara2 bagian di Amerika sana yang tak ada hubungannya sama sekali dengan nasib mereka langsung, kesempatan ini pun digunakan untuk berkumpul warga Kota Obama, bersorak-sorak memberikan dukungan hingga mirip festival. Eh, jangan2 nanti didirikan pula Kuil Obama, atau Pak Obama dijadikan dewa di sana :-D.

Minimal dalam jangka dekat, hasilnya, Pemerintah Kota Obama atas nama penduduknya, menerima surat ucapan terima kasih dari Pak Obama. Seperti dilaporkan oleh Koran Asahi: “The letter from Obama (the senator), dated Feb. 21, was delivered to the mayor Monday. After expressing his appreciation “for your support and encouragement” and “thoughtful gifts,” the letter called for continued friendship and efforts for a better world. “We share more than a common name; we share a common planet and common responsibilities,” wrote Obama, who is known for his eloquent speeches. “I look forward to a future marked by the continued friendship of our two great nations and a shared commitment to a better, freer world.”The letter ended with the words “Anata no yujin” (Your friend) and a signature in blue ink, which city officials believe is Obama’s own handwriting”. Gayung bersambut dan kotak katik pun memang menjadi “gathuk”.


Retrospeksi Rogelio Salmona

Maret 3, 2008

Rogelio Salmona, arsitek kondang Kolombia yang pernah menjadi asisten Corbu (Le Corbusier) ini saat ini profil dan karyanya tengah menjadi topik utama Majalah Architecture & Urbanism (a+u) Jepang edisi Maret 2008. Di situ oleh Ken Tadashi Oshima and Oscar Arenales-Vergara, hasil wawancara April 2007 saat Mr. Salmona masih sehat ditulis kembali (Beliau meninggal Oktober 2007 lalu, obituarinya ditulis pula di NY Times). Melihat karyanya yang didominasi oleh pemakaian bata merah dengan permainan geometris yang menawan, berlanggam modern namun juga mampu menunjukkan representasi ke-Kolombia-an, terasa banyak memberi inspirasi arsitektur negara berkembang. Cocoklah pula bila Beliau menjadi simbol eksistensi arsitek Amerika Latin, bersama Oscar Niemeyer (Brazil), Luis Barragan (Mexico), dan Carlos Raúl Villanueva (Venezuela).

A sort of symbol for South American architecture, whose genius is best expressed in his work in the city of Bogotá, Rogelio Salmona was born in Paris on April 28, 1927 to a Spanish father and a French mother, but moved to Colombia as a child. He always identified himself as Colombian, having grown up in Teusaquillo, an area of Bogotá with brick faux Tudor houses. Salmona began studying architecture at the National University of Colombia but interrupted his studies in 1948 and moved to Paris where he worked with the master architect Le Corbusier for nearly ten years. Also he collaborated in some projects under the direction of the architect and designer Jean Prouvé. At the same time, he continued his academic formation and studies of the history of modern art with Jean Cassou at the Louvre, and took part in the sociology of art program directed by Pierre Francastel at the Sorbonne’s École des Hautes Études.

His professional experiences were further enriched by study-related travels to throughout France as well several Mediterranean countries in Europe and North Africa. At the end of the 1957 he returned to Colombia and with other important architects in Bogotá founded a group whose main objective was to create viable public space, a principal characteristic of all his work. Once based here, Salmona created a body of work inspired by building traditions ranging from those in northern Africa and southern Spain, where Moorish influences were present, to indigenous civilizations in the Americas that predated the arrival of Iberian conquerors.

In a career lasting over fifty years, Salmona’s new way of considering architecture dominated Colombia’s national architectural scene. His first projects were primarily concerned with urban planning and the use of spatial volumes and were characterized by his use of brick which quickly became one of his favorite building materials. At the beginning of the 1970s, as epitomized in the Bogotá Towers in the Park residential complex, the architect challenged the prevailing strict architectural typologies and started to gain international attention.

Beginning in the 1980s Salmona’s work began to receive recognition both in Colombia and around the world; in 2004 he was awarded the prestigious Alvar Aalto Medal. Despite urban planning that has made Bogotá into a model for other Latin American cities, Salmona still lamented the living conditions of the poor, blaming their lack of dignity in part on the deep class differences of the country’s society. Salmona has received several international and national awards and honours including National Prize for Architecture, Colombia (1986, 1988, 1990), Architect of America Award, Pan American Federation of Architects Ass., Costa Rica (1999), Prince Claus Award, Amsterdam (1999), Alvar Aalto Medal, Finland (2004), Honorary Fellow of the American Institute of Architects (2006) and Golden Lion Award, Venice Biennial for Architecture (2006). Rogelio Salmona died on October 3, 2007 in Bogotá. He was 80 years old.